28.12.10

Py Besdey Aya

This is it...., tumpeng home made (red: gak bisa dibilang tumpeng juga si, hehe :-p soalnya bentuknya bukan kerucut tapi kotak) ala chef GN. Walaa nyummy ;-p


Quote Of The Day

RINDU ITU PENYAKIT YANG HARUS SELALU ADA PADA MANUSIA UNTUK TUHANNYA. BUKAN HANYA UNTUK PASANGANNYA. (GN)

27.12.10

Apalah (Arti) Setia

Setia itu MANUNGGAL. 

Pahit pasti bila ada yang tak setia. 
Dan bisa dipastikan berbuah manis bila saling setia. 

Miris, 
melihat banyak diantara kita yang tak setia terhadap manunggalnya. 

Dengan alasan yang bila ditelaah dengan benar, sesungguhnya adalah berakar pada egoisme pribadi. 

Biasanya orang tak setia adalah dikarenakan kepuasan yang kurang dan menginginkan hal yang lebih. Hal ini terjadi di semua lini hidup, entah itu kesetiaan pada pasangan, pekerjaan, sahabat, keluarga atau apapun itu. 

Andai kita bisa menengok jernih. Segala sesuatu selalu ada pilihan solusi yang terbaik. Dan ketidaksempurnaan selalu ada jalan keluarnya yang mampu menjadi pelengkap yang memadani. 

Setia itu berujung pada percaya. Bila kau tak setia, bersiaplah untuk tak dipercaya! Kepercayaan itu mahal, maka setialah! Mari, kembali pada komitmen bila diantara kita (para manusia) telah berucap setia! 

(gn)

18.12.10

Euforia Piala AFF

Gambar diambil dari sini

Bola. Bola. Dan bola. Indonesia sedang keranjingan olahraga sepak bola. Dan biangnya adalah Piala AFF 2010.

Koran, tabloid, televisi, media online, status facebook, status twitter, semua ramai membicarakan AFF. Bahkan artis-artis yang biasa nongol di infotainment jadi harus ala AFF bila mau gambarnya tampil di infotainment.

Saya pribadi sebelumnya sama sekali tidak mengerti dengan bola dan segala yang*berurusan sama sepak bola. Tiap teman atau orang rumah membicarakan sepak bola pasti saya langsung ngacrit. Habis belum tahu apa asyiknya sepak bola.

Nah gara-gara AFF kali ini nih. Gara-gara tipi dan koran yang sukses meracuni otak tentang bola, bola dan bola. Jadi penasaran, mengikuti, dan ehhh jadi ikut keranjingan deh....!! Haha efek penanaman sugesti dari media massa kayanya (ups).

Gambar diambil dari sini
Sepak bola ternyata olahraga paling asyik, rumit, susah, komplekks dah pokoknya.

Melibatkan banyak orang, yang mana butuh kerja sama satu sama lain. Kalau main sendiri atau egois, dijamin dah kalah.

Butuh strategi, taktik, dan sensivitas tinggi untuk mampu berbuat sigap dan berani ambil langkah cepat dalam segala situasi.

Ada kepemimpinan (lebih dari memimpin diri sendiri).
Dan juga harus mau dipimpin. Kapten memimpin tim namun kapten juga harus mampu dipimpin pelatih.

Sportivitas rumit sekali. Tahu kan banyak orang banyak gesekan? Apalagi ini bertanding seolah musuh-musuhan dan antar pemain juga saling bertemu dekat satu sama lain dalam lapangan. Mental pemain yang menjunjung sportivitas dan aturan main amat dibutuhkan di sini. Wasit yang berkualitas yang mampu mengambil keputusan dengan tepat juga amat sangat dibutuhkan. Karena kalau tidak, yaahhh bisa bergelut ria deh, haha apalagi orang indonesia kebanyakan masih bertemperamen keras dan suka sewot (ups, ixixixi).

Bagaimana menyerang (striker), mentransfer (gelandang), menjaga pertahanan (stopper), bagi saya unik sekali. Seolah-olah seperti kehidupan saya sendiri yang mencoba mempertahankan diri dari segala yang mengancam, mencoba menggapai impian dan menembak tujuan hidup. Bedanya saya sendiri.

Aniwei, sepak bola asyik juga. Mungkin mulai sekarang saya akan suka menonton sepak bola. :-p (gn)

17.12.10

Bahagia Itu (Ada)

Memang tak sempurna 
Jauh dari yang sangat terlihat di luaran sana 

Kami hanya seberkas cahaya lalu 
Yang tak ditakzimkan oleh mata 

Hanya dua pasang hati 
Dengan casing dari takdir-Nya 
Namun jauh di lubuk hati 
Bahagia besar ada di sana 

Yang suatu saat 
Tanpa harus berteriak 
Hanya sekadar berbisik 
Dunia mampu mendengar 
Melihat 
Dan merasakannya 

Karena (ada) bahagia 
Tatkala kami bersama 

(gn)

11.11.10

111110

Angka tanggal, bulan dan tahun pada hari ini bila digabungkan lumayan cantik. 111110. Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*] 



Hari ini 11 November 2010. Tak terasa sudah bulan ke 11. Bulan kedua terakhir sebelum akhirnya berujung pada gegap gempita tahun yang baru, 2011. Rasanya begitu cepat waktu berjalan. 

Saya yang ketinggalan atau waktukah yang meninggalkan saya? Ingin rasanya buru-buru mengikat waktu agar kami dapat jalan beriringan, seiya sekata, ketika saya ingin berjalan dia mengikuti dan ketika ia hendak berjalan saya pun digandeng olehnya. Dalam hal ini yang saya maksudkan adalah kualitasnya, kualitas saya bersama waktu dan kualitas waktu bersama saya. Hahaha, membingungkan ya? Hahaha. 

Intinya saya merasa belum menghasilkan sesuatu yang maksimal hingga bulan ke 11 di tahun 2010 ini. Jadi terasa sekali ketidakrelaan ketika tersadar bahwa ternyata (moro-moro) sudah bulan ke 11. Semoga saya dapat memanfaatkan waktu yang tersisa dan ke depan menjadi lebih bermanfaat, buat saya pribadi juga lingkungan sekitar saya. Amin. (gn, 111110)

10.11.10

Terimakasih Pahlawan


Tak terasa hampir 24 tahun saya menikmati udara segar dan penat di bumi. Sebuah perjalanan yang lumayan lama bagi saya usai keluar dari rahim wanita yang saya panggil dengan sebutan 'ibuk'. Fase bayi, kanak-kanak dan remaja sudah saya lalui. Berbagai jenjang pendidikan juga sudah saya tempuh. 

Huah, terbangun, terjatuh, tertatih, pernah dilewati. Ke depan rintangan juga sudah menanti (pasti). Bukan sesuatu yang mudah melewati perjuangan selama hampir 24 tahun yang telah lewat. 

Sembah kasih dengan takzim saya haturkan buat pahlawan-pahlawan dalam kehidupan saya. 

Tuhan, yang menjadi pahlawan terkuat dan tertangguh saya, yang tak pernah luput menempa saya menjadi pribadi yg lebih baik dari hari ke hari (insyaAllah), yang tak pernah meninggalkan saya (bahkan sayalah yang seringkali lupa dan meninggalkan). 

Bapak dan Ibuk, saya tahu kalian tak sempurna, tetapi kalianlah yang mengajari saya (banyak) tentang bagaimana rasanya menjadi anak, menjadi bagian dari masyarakat dengan bekal lauk pauk yang memadai. 

Pahlawan yang telah membuat saya ada (karena cinta). 
Seluruh kawan (yang segaris dan tak segaris), i love you. 

Terspesial untuk my knight yang membuatku jatuh bangun dalam pelajaran cinta. Teruslah jadi pahlawanku hingga akhir hayatmu (hehe). Niscaya aku kan mengenangmu dengan indah dan kukabarkan tentangmu pada anak cucu keturunanku kdlak (mengkhayal, hehe). 

Dan tak lupa untuk semua penulis (fiksi ataupun non fiksi), yang menginspirasi saya dengan semua tulisan-tulisannya. Juga seluruh pelaku kehidupan yang membuat mata saya terbuka untuk melihat (lagi) dunia secara lebih luas. 

Baik atau buruk kalian membuat saya jadi tahu kerasnya hidup. Selamat hari pahlawaaaannn...! 
Kalian semua berjasa dan punya andil besar dalam kehidupan saya. (gn)

* ups maaf kalau terkesan kaya pemenang award, haha! 

1.11.10

Hujan Yang Sempat Terlupakan

Gambar diambil dari sini

Rintik-rintik hujan menghantarkanku pada sebuah lamunan.

Masa itu, ketika rintik hujan juga membayang. Ketika aku masih muda. Ketika aku masih belum tahu apa-apa.

Ketika aku masih perjaka.

***

"Indra Hasta Purnomo!!!" ibu menyebut lengkap namaku, membelakkan matanya tak percaya pada apa yang ia lihat. Ada api yang besar di matanya. Seolah siap membakarku, hidup-hidup.

"Apa yang kamu lakukaaan?" bentaknya padaku sambil mengambil benda runcing itu dari genggaman tanganku.

Sekujur tangan dan beberapa bagian bajuku berlumuran cat, berwarna merah.

***

15 menit berjalan. Aku masing riang bermain hujan-hujanan.

Yah, ibuku yang marah yang memintaku untuk bermain air hujan. Katanya agar baju dan tanganku jadi bersih. Agar noda cat itu menghilang.

Aku sayang ibu. Aku selalu menurut pada ibu.

***

"Ibumu pembunuh!" maki tetangga-tetangga bawel itu pada suatu hari.

Aku yang mendengarnya hanya bisa bengong tak mampu memahami.

Aku tahu mereka bohong. Ibu sendiri yang pamit padaku bahwa ia berangkat bekerja ke luar negeri. Nenek, yang menjagaku sekarang juga bilang demikian.

Sedang ayah tiri jahat itu, pergi ke Pulau Sumatera. Meninggalkan Lombok untuk bersama temannya. Neneklah yang bercerita padaku.

Ah, pasti teman yang dimaksud adalah tante-tante centil yang selalu menggoda ayah tiriku itu, yang membuat ayah suka memukuli ibu dan lupa pulang.

Masih kuingat, terakhir bertemu, aku bermain perang-perangan dengan ayah. Akulah yang menang. Ayah kalah dan terbaring di lantai. Bahkan sebelumnya ia bilang "ahhhh", seperti layaknya musuh kalah dalam peperangan.

***

Kini, ketika hujan didesirkan oleh angin di jendela kamarku, kudengar kabar itu. Ibu bukan di Malaysia. Tapi masih di sini, satu kota denganku.

Dan kuingat lagi, warna merah itu bukan cat, bukan! Tapi...,

Ah, baru kuingat.

Kutusuk ulu ayah waktu itu, ketika rintik hujan membayang. Ketika aku masih muda. Ketika aku belum tahu apa-apa.

Ketika aku masih perjaka.

***

Kasihan ibu, ia menggantikanku. (gn)

Rintih Pilu

Ingin berlari 

Menghindar dari kenyataan perih yang tanpa peri 

Palut jiwa meronta 
Meminta tumbal bagi jiwa 
Jiwa yang sepi 
Jiwa tanpa tali 

Oh surga..... 
Oh surga..... 
Jemput aku 

Sungguh, 
Setan sudah bosan di neraka. (gn)

30.10.10

Penantian Tanpa Ujung


Selalu begini 
Memudarkan harap 
Menghitamkan sepuhan emas 

Lama sudah... 
Dan selalu begini 

Gadis itu terdiam 
Di bagian ruang 

Menanti 
Yang memintanya tuk menanti 

Namun... 
Selalu begini 
Selalu harus menunggu 

Sedang yang ditunggunya 
Selalu saja meminta untuk menanti 
Hingga ruang itu... 
Tak ada lagi 
Tak mau menanti. (gn)

26.10.10

Still Marry Me

Ini adalah drama korea kesekian yang membuat saya kepincut dan sedih bila terlewat untuk menonton setiap episodenya.

Renungan Merapi 261010



Hati saya bergetar, menyaksikan tayangan di televisi terkait kondisi terbaru pasca meletusnya gunung merapi. Ada prihatin yang menyayat batin, membuat saya ikut luruh merasakan derita korban. Mengajarkan saya kembali akan pentingnya sebuah nyawa juga arti dari hidup.

Merapi. Meledak pulalah akhirnya kemarahanmu. Kau tahan sedemikian lama, kau pendam dan kau perbanyak produksi lava dan lahar. Sehingga muntahlah dan terjadi peristiwa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB.

Merapi. Gunung yang dikononkan masyarakat setempat dengan berbagai perihal klenik dan aturan-aturan jawa. Huah, akhirnya berhasil mengambil nyawa dari juru kunci juga sejumlah warga lain yang tak sempat terselamatkan. Miris. Entah nekad, sok kuat atau apa. Mereka memilih bertahan di daerah rawan dan sudah dinyatakan awas hanya demi alasan menjaga Merapi, setia kepada Merapi.

Lihatlah, seberapa guna ritual tiap tahun itu? Sesajen-sesajen juga kongkalikong yang diucapkan untuk menegoisasi Merapi. Saya jadi teringat mantra yg diucapkan Mbah Marijan (saya rasa ini satu-satunya yang terkabul). Dalam ritual salah satu permintaan Mbah Marijan adalah agar bila meletus Merapi melewati jalurnya sendiri dan tidak mencapai keraton. Tetapi kenapa juga Mbah Marijan tidak menyingkir dari kediamannya yang notabene bukanlah keraton dan termasuk kawasan yg dilewati lahar? Setia mengkunci Merapi beliau rupanya (rumah pribadinya yang 2 km dari Merapi maksudnya).

Ah dasar masyarakat kultural jawa. Memegang teguh kepercayaannya dengan meminimkan logika. Mungkin begitulah cara mereka menghargai nyawa. Entahlah. Saya hanya bisa menduga-duga.

Rasa salut akan pengabdian kerja juga saya tujukan kepada wartawan vivanews.com, yang meninggal terkena aliran lahar panas. Sebagai orang yang pernah menjadi penggiat pers kampus saya bisa memahami dedikasi anda. Tapi miris, istri menjadi janda dan putra-putri menjadi yatim.

Merapi. Pilihan bagi masing-masing. Untuk bergabung dengan segala muntahannya atau menghindar darinya. (gn)

6.10.10

Putus di Asa

Gambar dipinjam dari sini
Entah kapan tepatnya pikiran ini muncul. Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Semua ini gara-gara niat Rika meminta pisah. Ya, surat dari Pengadilan Agama Cibinong sudah sampai di tangan saya seminggu yang lalu. Saya digugat cerai oleh istri yang sudah saya nikahi hampir tiga tahun itu. Dan keinginan itu tiba-tiba saja muncul. Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Masih terngiang dan terukir indah di kepala, ketika keluarga besar Rika menolak mentah keputusan saya untuk menyunting Rika sebagai istri ketika itu. Padahal kehamilan Rika tak bisa menunggu lagi. Hingga akhirnya bak cerita di film kami sepakat untuk kawin lari. Menjauh dari keluarga, menikah diam-diam dan hidup akhirnya bersama anak kami, Ronald.

Ronald adalah semangat saya. Semangat saya untuk kuat mengarungi bahtera rumah tangga yang memang sudah kacau balau sejak awal pernikahan lari kami. Keterbatasan ekonomi karena saya hanya bekerja sebagai kuli, membuat Rika sering marah-marah karena merasa kebahagiannya berbalik 360 derajat dari kehidupannya sebelum kami menikah.

Rika putri dari Bupati ternama, sedangkan saya? Hanya sopir pribadi Rika selama ia menjadi anak kuliahan di salah satu universitas ternama di Bandung. Entah karena terbiasa bersama-sama dimana sayalah orang yang paling rajin menemani Rika setiap harinya, atau karena ia memang merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya yang memang sibuk dengan kegiatan sosial dan politiknya, cinta itu tumbuh pada kami. Hingga malam yang dingin akhirnya menumbuhkan Ronald di rahim Rika.

Sekali lagi, Ronald adalah semangat saya. Dan saya? Saya sangat mencintai Rika. Walau saya tahu, sulit untuk saya untuk mewujudkan segala keinginan duniawinya. Tapi, saya sudah berusaha. Bekerja siang malam, jadi kuli, jadi babu, semua saya saya lakukan. Tak lain hanya untuk Rika dan Ronald.

Memang, dapat saya maklumi tak mudah bagi Rika menjalani kehidupannya yang tak lagi bergelimpangan materi. Karena itu saya diam, walau saya tahu diam-diam ia menjalin komunikasi kembali dengan ibunya dan meminta ibunya mengirimkan sejumlah uang. Saya hanya berpikiran positif, ini bagus untuk kembali menjalin silaturrahmi yang retak. Saya juga diam, walau saya tahu ibunya berusaha merayu Rika untuk meninggalkan saya. Saya tahu, Rika tidak akan meninggalkan saya. Itu setahun yang lalu.

Hingga, tiga bulan lalu saya memergoki Rika berduaan dengan Onci, pria lulusan luar negeri yang sejak dulu getol dijodohkan nenek Ronald pada Rika. Hingga, saya yakin hubungan mereka tak lagi hanya sekadar teman. Rupanya nenek Ronald sukses mendekatkan mereka selagi saya sibuk membanting tulang sebagai kuli dan babu.

Saya beranikan menegur Rika. Saya memintanya untuk menghentikan semuanya demi Ronald. Tapi Rika bilang, ini semua demi Ronald. Ya, ini semua demi Ronald, begitu kata Rika. Malah a lantang meminta cerai. Padahal walau harga diri terinjak, saya masih memaafkan Rika, karena saya mencintainya dan Ronald adalah semangat saya. Tapi Rika bergeming, ia bilang semua ini demi Ronald. Ia berucap lelah dan berteriak bahwa cinta saja tak cukup baginya dan bagi Ronald.

Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Surat panggilan sidang pertama masih di genggaman saya. Berbagai upaya untuk merayu Rika sudah saya lakukan. Bahkan berlutut di kaki ibu dan ayah Rika.

Saya sangat kehabisan pikir, saya sangat kehabisan akal dan saya sungguh berharap akhir hidup menjadi jalan.

Saya ambil silet yang ada di pojok almari. Beberapa menit hening. Dan saya hanya sempat melihat kucuran darah mengalir dari sela-sela jari. (gn)

4.10.10

LELAKON

Diajeng Sinta merengek pada Arjuna. Menarik tali demi tali simpati, dalam simpul kebekuan lelakinya.

Tak ada tangis, tak ada juga canda. Hanya rengekan, rowengan penuh arti dari batin wanita. Yang entah saking gilanya, di dengar dengan penuh kelembutan oleh sang pangerannya.

Arjuna gila, teriak Sinta pada jagat istana. Membuat lantai retak dan angin pun kabur dari hadapannya.

Seketika matahari menyingsing, menunjukkan gelagatnya. Terpukau suara gadis pujaan rajanya.

Awan pun tertunduk, menghormat dengan malu. Teringat titah pengayomnya.

"Jagalah belahan jiwaku, dinginkan aku selalu saat bersama emosinya". Sabda Arjuna pada saat menemukan Sinta. (gn)

2.10.10

Yey, Hari Batik!

Menurut saya....,
Batik itu elegan, anggun, klasik.
Batik itu wujud kesabaran (bikinnya saja susah, butuh ketelitian dan waktu berhari-hari)
Dan batik itu....., warisan budaya Indonesia.



Yey, selamat hari batik! Saya cinta batik. Kamu?!? (gn)

27.9.10

ROMANTISME MALAM

Gambar diambil dari sini
Suara lenguhan nafas, tetesan keringat juga rasa yang nikmat. Itulah yang tengah menjalari sekujur tubuh Eko sekarang.

"Fyuhhh," Eko menarik nafas panjangnya ketika berhasil mencapai lagi puncaknya.

Malam ini adalah malam yang indah. Ia bisa asyik mengadu nafsu dengan istrinya tanpa diganggu sedikitpun oleh Rahmat, putranya. Bayi berusia 2 tahun itu tengah terlelap di bagian lain dalam kamar itu.

+++

"Tiap hari pulang larut. Selalu begitu!" roweng Rina pada suaminya, "Ada selingkuhan yang ditengoki, iya?"

Eko hanya diam.

"Heh, tuli a? Ngomong kalo sudah bosan. Aku ini juga, capek punya suami gak pernah bisa ngasi sandang pangan buat anak. Istri apalagi. Nelongso akuu!" perempuan 28 tahun itu terus saja memberondong Eko dengan sejuta omelan.

"Diammm," gertak Eko, capek mendengar istri yang sudah dinikahinya selama 5 tahun itu nyerocos dan menuduh ia tanpa henti.

Bukannya diam, perempuan bertahi lalat di pipi tersebut semakin memperpanjang dan mempertajam protes-protesnya. Makian, cacian, segalanya ia luapkan untuk menumpahkan rasa kesalnya.

"Diammm," perintah Eko sekali lagi, "Kalau tidakk....".

"Apa kalau tidak? Bunuh? Seperti yang sering kamu bilang? Bunuh saja," Rina menantang.

"Dasar istri jahanamm, kubunuh kauu!" Eko yang geram langsung mengambil pisau yang waktu itu kebetulan ada di dekat tempat Rina berdiri.

Jleeppp. Ia menusukkan pisau itu tepat di jantung wanita yang dikenalnya di rumah bordir itu, 7 tahunan yang lalu.

+++

"Nah, kalau seperti ini kamu tampak manis sayang," puji Eko pada istrinya, "Kamu terlihat sangat seksi".

Rina tak bergerak. Badannya ditindih oleh tubuh kekar suaminya. Tak ada sehelai benangpun.

"Kamu sangat manis sayang, kamu memang menggemaskan bila diam," kata Eko lagi.

Malam pun semakin larut dan pria 35 tahun yang pernah dipenjara karena membunuh ayahnya ini pun terus memburu nafsunya. Hingga akhirnya ia terlelap tidur setelah melalui 3 ronde ejakulasi.

Dan Rahmat, putranya, masih saja tidur dengan nyenyaknya. (gn)

26.9.10

SEKAK

"Bune!" teriak Kasim yang tengah duduk di kursi makan, "Aku mau berangkat".

"Iya Pakne. Iyaa," jawab Sumini sambil berjalan tergopoh dari pawon. Segera ia menuju bufet lalu menyamber tas kerja di sana.

"Ini Pakne," ujar Sumini begitu sampai di hadapan suaminya. Langsung saja diserahkannya tas tadi.

"Yo wes. Aku budal. Doane," kata Kasim beranjak dari duduk.

"Hati-hati di jalan," pesan Sumini. Diciumnya tangan suaminya itu.

"Hati-hati Paknee," pesan Sumini lagi setengah berteriak ketika Kasim berlalu 3 m dari rumah. Entah, meski 10 tahun terbiasa menghantar suaminya, baru kali ini perasaannya berkecamuk tak karuan.

"Semoga lancar," gumam Sumini mengelus dada. Ia bersandar di daun pintu, melamun sesaat hingga ada anak kecil yang menjawilnya.

"Buk!" terdengar suara.

"Oh," Sumini kaget, "Oalah nduk, kamu. Ada apa?" Sumini tersadar dari lamunannya.

"Besok Atik sekolah kan Buk? Bapak nanti bawa uang kan?" tanya anak 8 tahun itu polos.

"Iya nduk, iya. Besok Atik sekolah. Besok Atik bayar SPP 3 bulannya. Ya?" tutur Sumini lembut lalu memeluk putri tunggalnya.

"Ayo belajar dulu sana di kamar," pinta perempuan 40 tahun itu dan dituruti tanpa bantahan oleh Atik.

"Fyuhh," Sumini menarik nafas. Teringat akan hutang-hutang segunung itu.

Biaya kontrakan yang nunggak 3 bulan, hutang beras di warung sebelah, hutang di tetangga, biaya sekolah Atik, biaya perawatan ibunya di rumah sakit bulan lalu yang pinjam dari rentenir, juga uang yang harus dikembalikan suaminya setelah di PHK dan difitnah mencuri uang kantor.

**

Matahari terik di peraduan. Baru saja Sumini selesai menjemur pakaian.

"Asalamualaikum," terdengar suara dari luar. Ada tamu ternyata.

"Iyaa," sahut Sumini sambil berlari kecil ke teras.

"Hah polisi," sebut Sumini dalam hati begitu melihat siapa tamunya.

"Anda istri Pak Kasim?" tanya polisi itu.

"Iya benar".

"Saya dari Polsek Mampang. Pak Kasim kena hajar masa saat mencopet di bis. Kondisinya kritis".

"Apa?" teriak Sumini lalu tak sadarkan diri. (gn)

29.8.10

Dia Manusia

Ada yang belum ia peroleh 
Dan mau ia dapat 

Ada yang sudah ia peroleh 
Namun ingin ia buang 

Ada yang hilang 
Dan harap dapat segera ia temukan 

Ada yang tertemukan 
Tetapi nafsu untuk segera ia lenyapkan 

Dia mau 
Dia ingin 
Dia..... 

Manusia 
Mau dan ingin 
Adalah dua hal naluriahnya 

Dia..... 
Manusia 

Kadang lupa 
Apa yang sejati dibutuhkannya 

Ya 
Dia..... 
Memang manusia 

Dan kita..... 
Juga manusia (gn)

16.8.10

Sarapan Mantap Dengan Pecel

Belum sempat masak namun ingin merasakan nikmatnya sarapan di pagi hari?

Pengen yang murah meriah, porsi cukup dan tidak membuat kantuk saat beraktivitas kerja?

Nasi pecel bisa jadi pilihan yang menarik. Apalagi pecel adalah santapan pagi hari yang mudah didapatkan di warung-warung.

Ini adalah nasi pecel pilihan saya.


Aneh ya? Tidak ada sayurnya?
ixixixi, yaaa saya adalah salah satu manusia di muka bumi ini yang takut makan sayur alias kurang suka. Haiks. Jadi setiap beli pecel saya hanya membeli dengan aturan main NASI-BUMBU-REMPEYEK. Yups, just it :-p.

Yang saya makan ini murah loh.., hanya Rp 3000 saja. (gn)

9.8.10

Kasihi Mereka

Saya paling geli (red: kurang suka, hehe) bila menemukan orang tua bertindak kasar pada anaknya. Baik itu secara tindakan maupun ucapan.

Orang tua memang tidak selalu salah. Namun juga tidak selalu benar.

Anak? Yah anggap saja anaklah yang salah. Karena memang dasar masing kecil, masih hijau, minim pengalaman dan sebagainya. Namun dalam beberapa kasus anak tidak juga selalu jadi pihak yang salah.

3.8.10

Quote Of The Day

TAHUKAH? ZENIT DARI HIDUP? ADALAH PENGORBANAN. SEMUA (MEMANG) PUNYA HARGA. (GN)

1.8.10

The Choice

When we walking on the air
When we walking on the water

Sebuah hal mengalun..., mengalir....
Memberikan pandangan tentang hidup
Saat ini, esok, dan di depan

This is it....
The choice!

We know we will see the smile
Yes, we know we will see the smile

Sebuah hal mengalun..., mengalir....
Memberikan pandangan tentang hidup
Saat ini, esok, dan di depan
It's wrong?

Sometimes, we dont know what is the best
Whats the call of hearth
Whats the name that we can call 'the better'

Suara-suara berkumandang
Riuh gemuruh melebihi adzan

And than...

Sometimes, we really really dont know what is the best
Whats the call of hearth
Whats the name that we can call 'the better'

And the choice is true part of the life 
And the choice is.....
????

The answer that we believe
(gn)

26.7.10

Pernahkah?



Pernahkah kau rasakan? 
Ada kekuatan luar biasa 

Yang tiba-tiba 
Yang kau pun tak tahu darimana datangnya 

Menyejukkan batin 
Memberi ruang untuk ego dan nafsu 

Saat usai memojokkan diri 
Saat baru menangis 

Ketika habis-habisan melemparkan sejuta tanya 
Kenapa? 
Mengapa? 
Karena apa? 
Harus bagaimana? 

Sejenak kau mengasingkan diri dari dunia 
Terhenyak tanpa siapapun 
Dan berbincang akrab begitu lama 
Pada kembaranmu 

Tatkala cacian, koreksi diri 
Sanjungan juga dukungan 
Habis-habisan memeras otak yang begitu kecil 
Untuk hal yang sedemikian besar 

Pada saat lidahmu kelu 
Air ludah bersenang-senang bertamasya 
Dan butiran mutiara menetes dari indra penglihatmu Bersama mantra-mantra itu 

Ajaib Tanpa diundang tiba-tiba ada secerah ilham 
Ada kesejukan 
Tiba-tiba saja dan begitu saja 

Setelah kau lama berbincang 
Menegosiasikan hati dengan pusat pikirmu 
Penahkah? (gn)

17.7.10

Cuci Tangan Yuk!


Menurut saya.., cuci tangan itu adalah hal paling simple, paling susah dan paling males buat dilakukan. Hahaha!
Padahal sebenarnya dari sikap sederhana itu bisa muncul banyak manfaat loh..!
Orang tua saya.., demen banget ngomel ketika saya masih kecil dulu. Terutama pada saat-saat seperti berikut…, CEKIDOT…:
1.   Sebelum maem
2.   Habis pipis atau pup, hehe
3.   Habis pegang pus (kebetulan di rumah kucing adaaa seabrek, haha)
4.   Dan situasi-situasi lainnya yang kata orang tua saya sih, genting banget harus cuci tangan (huk huk huk huk, :-p)
Kadang sebel juga diinget-ingeitin muluk disuruh-suruh cuci tangan muluk (ixixixi maklum masih kecil). Tapi ternyata cuci tangan itu penting yaa…!
Ada banyaakkk sekali ternyata penyakit yang bisa ditularkan melalui tangan. (hasil baca koran tadi siang, dan huhu super-super bikin takut de ngebayangin kalau saya sampai apes kena penyakit akut cuma gara-gara males cuci tangan, huhu).
Ada penyakit influenza, meningitis, hepatitis A, diare, penyakit kulit bahkan gangguan usus. (Di koran yang saya baca bahkan ditampilkan gambar organ-organ tubuh tersebut yang rusak karena bakteri, hiii ngeri dehh).
Bahkan pada banyak kasus di Indonesia, disebutkan bahwa banyak balita yang berawal dari diare lalu berujung pada kematian. Di situ disebutkan:
Jika tangan manusia menyentuh tinja maka akan terkontaminasi lebih dari 10 juta virus atau satu juta bakteri yang merupakan sumber banyak penyakit
Kita sih, enggak lah ya kalau sampai menyentuh tinja (ixixixixi), Cuma garis besarnya di sini adalah bahwa kotoran (kotoran itu gak Cuma tinja aja loh ya, ada sampah, dll) bertransmigrasi melalui udara dan biasanya akan transfer ke tubuh manusia melalui tangan. Dan tangan utama perantara utama kita buat ngapa-ngapain. Betul? Hehe.
Jadi ayo deh, jangan di’eman-eman’, buat sekadar cuci tangan aja. Lebih banyak manfaatnya kok daripada enggaknya. Dan itu akan kembali ke tubuh kita sendiri loh manfaatnya. Yuk mareee… :-p.
Terimakasiii buat orang tua saya yang selalu mengajarkan dan menanamkan kebiasaan tersebut. Dulunya saya mungkin terpaksa namun sekarang ketika sudah dewasa saya merasakan sendiri manfaatnya. Saya pikir, mungkin ketahanan tubuh saya tidak akan sekuat dan sesehat sekarang kalau hal kecil seperti itu tidak dibiasakan sejak kecil (gn).

7.7.10

End

Terimakasih untuk kebersamaan selama 5 tahun ini.
Kau tahu aku sangat bersyukur kau memberiku dua hadiah maha berharga.
Mungkin kita memang harus selesai.
Anak-anak biar ikut aku.


Surat singkat itu kutemukan ada di genggaman Lastri yang tidur terbujur kaku. Aku menjerit, kulihat ke dalam kamar, Sari dan Delon bersimbah merah di atas ranjang. (gn)

26.6.10

IZINKAN AKU PERGI

Entah sudah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya tersadar dari tidur. Kulihat sekelilingku, kuamati satu persatu benda yang ada di sana.

"Huuhhhhh," lenguhku panjang.

Sialan, ternyata aku masih saja di sini. Seperti kemarin, seperti dua hari lalu, bahkan seminggu yang lalu.

Jujur aku sudah bosan. Ini bukanlah tempatku. Dan hanya satu hal, "Aku ingin pulang," hatiku menjerit-jerit meneriakkan tiga kata ini.

Terbayang di kepalaku, "Ayahku". Siapa yang mengurusnya. Kakek tua yang merepotkan dan menyebalkan. Apa mau tetangga-tetangga sombong itu membantu mengurusnya?

Andai saja oh andai saja. Andai saja waktu itu ayah tidak mengajakku yang masih belia pergi merantau ke Jakarta. Mungkin nasib kami tidak seperti ini. Meskipun hidup ala kadarnya dengan bertani, masih ada opung, oma, paman, bibi juga kerabat-kerabat dekat lain. Setidaknya kami masih memiliki keluarga juga sanak tetangga yang saling peduli.

Sedang di sini? Haha, orang-orang terlalu sibuk untuk dirinya sendiri.

"Ayaahh," gumamku pelan.

"Semakin lama aku di sini, itu beban namanya," mantapku menguatkan diri.

"Kenapa tukang ojek itu membawaku ke sini? Mestinya biarkan saja mati di pinggir jalan," gerutuku.

Lekas kulihat sekeliling.

Sepi.

Pelan-pelan kulepas semua tetek bengek yang dipasang di badanku. "Aduh," keluhku sakit.

Dengan badan lunglai aku bangun. Segera aku berjalan mengendap, berharap tak ada seorangpun yang tahu.

Kubuka pintu pelan, lalu kulongokkan kepalaku untuk mengintip, "Aman".

Segera kuteruskan langkah menuju lorong gerbang. Sampai akhirnya agak jauh tiba-tiba terdengar suara, "Bu Rohana mau kemana? Bu! Bu!"

Aku yang lemas merasa semakin tak kuat menopang tubuh. Hingga akhirnya badanku ditangkap oleh orang-orang berseragam putih itu.

++++

"Pasien DBD itu sudah diberi penenang Dok! Demamnya masih tinggi," lapor seorang perawat pada dokter jaga.

++++

Esok hari muncul headline di koran lokal setempat:

"Merasa Tak Mampu Bayar Biaya RS, Pasien Mencoba Kabur 3 Kali". (gn)