Showing posts with label Jerit Syair. Show all posts
Showing posts with label Jerit Syair. Show all posts

12.5.12

Got a Friend

Berawal dari asing....,
Berawal dari tak tahu siapa...,
Menjadi tahu siapa.




Terimakasih untuk N, A, R, F, D, dan D.
Untuk hari-hari penuh kenangan!
Satu setengah bulan yang tak akan pernah terlupakan.
Love you all!!!
(gn)

9.5.12

Ucap Pinta

Tuhan...
Berikan aku kelapangan hati dan kemampuan untuk belajar ikhlas dari setiap kejadian dan pelajaran hidup yang aku peroleh.

Tuhan....
Sabarkanlah aku untuk mampu berdamai dengan gejolak jiwa dan egois sanubari.

Berikan aku rahmat untuk bisa selalu menyenyumkan orang dan mendamaikan sekitar.

Tuhan...,
Hamba mau untuk seperti bambu. Kuat dan tegar.

Berikan hamba jeda Tuhan dalam setiap kata hidup hamba.
Limpahkan kerelaan dan kemampuan menimba ilmu darimu.

Setiap catatan...
Setiap reka...
Setiap tangis....
Setiap tawa....
Setiap gundah.....
Setiap senyum....
ADALAH INDAH DARIMU.....!

(gn)

26.4.12

The Roller Coaster

Pagi terasa sangat memalaskan
Siang begitu menyemangatkan
Namun senja membuat tetes air terteteskan dari kelopak

THIS IS LIKE THE ROLLER COASTER

Misteri dari perjalanan detik ke detik
Jam ke jam
Hari ke hari

Yang terduga kadang berbalik tak terduga
Yang tak terduga balik menyerang menjadi yang terharap
Misteri

THIS IS LIKE THE ROLLER COASTER

Senyum, tawa....
Tawa..., senyum...
Berganti mengisi hati
Bebareng dengan kenyataan dan takdir...

The lucky?
The opportunity?
The challenge?
Sangat misteri

THIS IS LIKE THE ROLLER COASTER
Do I?
(gn)

9.3.12

In the Morning

Hujan turun dengan lebat
Tepat ketika mata terbuka menatap

Senja pagi malu-malu muncul balik peraduan
Tertutup kabut dingin dibalik awan

Selamat pagi dunia
Masihkah mentari membuka tangannya?

Pagiiiii!

I can see the morning
But i could't be the morning
Good morning!

12.2.12

Surat Untuk Sahabat

Sahabat...
Tiba-tiba aku ingin menyuarakan ini
Ketika aku masih sempat
Ketika kalian masih mengingat
Bahwa aku ada
Bahwa kita semua pernah bersama
Dan kenangan adalah satu-satunya yang selalu (pasti) menyatukan kita

10 tahun lalu....
Kutemukan kalian yang akhirnya memberi serpihan-serpihan cerita

10 tahun lalu....
Belum kusadari aku bertemu sahabat-sahabat berharga
Yang ternyata terlukis di otak dan hatiku bahwasanya sangat bermakna

Ketika aku masih sempat
Aku ingin kalian sekadar mengingat
Bahwa kalian adalah bagian orang-orang terbaik
Yang hadir menyentuh relungku

10 tahun berlalu...
Lalu lalang mereka yang datang dan pergi
Ketahuilah kalianlah yang tetap juara di hati

Mungkin ini adalah kata yang beberapa kali pernah aku ungkap
Namun (sekali lagi) ketika aku sempat
Aku ingin membuat kalian mengingat
Bahwa aku sangat mengasihi kalian yang bagian terbaik hidupku

Aku bahagia
Sungguh hatiku sangat bahagia
Ketika melihat senyum dan (mengetahui) kalian berbahagia

Dan aku (sangat) khawatir
Sangat takut
Aku berharap kalian (selalu) berbahagia

10 tahun berlalu....
Masa-masa remaja juga berlalu.

Kini....
3 perempuan menanti menjadi ibu tuk pertama kali
Perempuan yang berbahagia yang mengabdi pada suami

Kini.....
4 lajang mencoba mengais bahagia dengan pilihan dan caranya sendiri-sendiri
Lajang yang galau pada seperempat abad lebihnya
(Kita) akan bahagia (pasti)

10 tahun berlalu sejak 2.5 menyatukan kita
(Sekali lagi) ketika aku sempat
Aku ingin berkata...
Terimakasih sahabat!

Dan aku ingin kalian ingat (dan tahu)
Betapa walau sepuluh tahun telah berlalu
Aku (masih dan akan terus) menyayangi kalian yang (adalah bagian) terbaik dalam hidupku. (gn)

* For DO, DH, NAA, NNA, SRL dan MARE

2.2.12

Kuingatkan Kau (Lelaki)

Memang,
Takdir mengutusku (wanita) menjadi makhluk sempurna yang diberkahi sebuah rahim
Rahim berharga tuk menelurkan makhluk-makhluk mungil bernama 'manusia'

Memang,
Hakikatku sebagai 'alat' lelaki melanjutkan keturunan
Tapi aku (wanita)

Panggil aku (wanita), cinta
Panggil aku (wanita), sayang
Panggil aku (wanita), istri
Panggil aku (wanita), ibu

Lelakiku..., 
Kau memang pemimpin (wanita)
Dalam keluarga kuhargai kau sebagai pembimbing ke surga

Tapi...,
Lupakah kau?
Aku (wanita)
Aku manusia
Aku memiliki 'penguasa'
Penguasa atasku
Penguasa atas hidupku
Dan penguasa atas apa yang ada di dalam rahimku
Dan itu bukan aku (wanita)
Dan itu juga bukanlah kau (lelaki)

Kuingatkan kau (lelaki)
Aku (wanita) dengan 'penguasa'Nya
Rahimku pun ada atas kehendakNya
Bukan kehendakku
Atau (pula) kehendakmu
Dan apa yang ada dalam rahimku adalah kuasaNya.

*Note: Anak adalah anugerah (apapun jenis kelaminnya)
(gn)



Ibu Dibunuh Karena Melahirkan Anak Perempuan
Sumber dari sini

TEMPO.CO , Jakarta: Sungguh malang nasib Estoria. Perempuan Afganistan yang baru menginjak usia 22 tahun itu harus meregang nyawa karena melahirkan anak ketiganya. Ia bukan meninggal dalam proses melahirkan, melainkan ia dibunuh oleh ibu mertuanya, Wali Hazrata, dan suaminya sendiri, Sher Mohammad. Untunglah, bayi merah yang kini baru berusia dua bulan itu selamat dari pembunuhan. 

Kematian Estoria yang tragis ini hanya akibat satu alasan: anak ketiga pasangan ini adalah perempuan… lagi. “Sang suami kecewa karena sangat menginginkan anak lelaki,” kata Kepala Kepolisian Distrik Khanabad, Sufi Habibullah, Senin lalu. Meski berhasil menangkap sang mertua, suami Estoria berhasil kabur dari Provinsi Kunduz, tempat tinggal mereka.

Sebelum meninggal, Estoria pernah mengeluh kepada keluarganya. Sang suami beberapa kali mengancam akan membunuhnya jika kembali melahirkan anak perempuan. “Estoria tinggal di dalam neraka, bukan rumah,” ucap salah seorang tetangga yang tak mau namanya disebut.

Direktur Urusan Perempuan Provinsi Kunduz, Nadira Gya, mengutuk insiden tersebut. “Ini adalah kejahatan keji terhadap perempuan tak berdosa,” ia menegaskan. Kepada Gya, ibu mertua Estoria bersumpah bahwa menantunya itu bunuh diri. Namun polisi membantah keterangan Hazrata. “Tidak ada tali bekas gantungan dan tidak ada bukti di tubuh jenazah yang mendukung pernyataan tersangka,” kata Habibullah. 

Nyawa perempuan di Afganistan seakan tiada harganya. Dalam beberapa bulan terakhir, kekejaman demi kekejaman terhadap perempuan di negeri itu semakin mengemuka. Kasus terakhir adalah ditemukannya seorang anak 15 tahun yang disekap dan disiksa oleh iparnya karena menolak menjadi pelacur.

Akibat kritikan dunia internasional, pemerintah Afganistan pun mengeluarkan pernyataan sikap untuk mendukung dan melindungi hak perempuan. “Hak perempuan adalah inti dari keamanan nasional negara dan keamanan rakyat di mana pun berada.”


4.1.12

Tentang Perjalanan (Yes, I Will)

Dusun besar, awal Januari 2011!

Melangkahlah aku ke sebuah titik
Titik nun jauh, yang belum aku suai

Tegarlah engkau ciptaanNya
Karena sesungguhnya tak ada yang sulit atas perjalanan yang diberikanNya

Everybody can see
But not see
Everybody know
But not know

Dan melangkahlah aku ke sebuah titik
Titik nun jauh, yang belum aku suai

Yes, I will.
Are you will?

Dan melangkahlah aku ke sebuah titik. (gn)

28.10.11

83 - DIRGAHAYU PEMUDA

28 Oktober 1928
28 Oktober 2011

Riwayatmu kini 
Setelah ikrar itu 
Setelah sejarah itu 

Yang dulu pemuda 
Dan kini adalah petua 
Bahkan mungkin telah tiada 

Yang dulu batita 
Bahkan belum ada 
Dan kini menjadi harapan bangsa

Masih satu nusakah? 
Masih satu bangsakah? 
Masih satu bahasakah kita? 

Ikrar itu 83 tahun yang lalu... 

"Kami, putra-putri Indonesia. 
Mengaku, bertanah air satu tanah air Indonesia" 

"Kami, putra-putri Indonesia. 
Mengaku, berbangsa satu bangsa Indonesia" 

"Kami, putra-putri Indonesia. 
Mengaku, berbahasa satu bahasa Indonesia" 

Kini... 
Setelah digerus zaman 
Dan ditempa dengan tantangan pada tiap-tiap generasinya Masih nasionaliskah kita? 

Makna yang kini telah menjadi lain 
Tak lagi dikenal pahlawan-pahlawan itu 
Lagu-lagu kebangsaan atau sejarah itu 

Huah, makanan apa semua itu? 
Sedang tawuran dimana-dimana 
Demi yang berkepentingan 

Tak peduli pemuda intelektual atau bukan 
Perpecahan diutamakan 

Pemuda... 
Seperti inikah wajahmu kini? 

Mentang-mentang kita sudah merdeka 
Mentang-mentang kolonial nyata tak begitu tampak di kasat mata 
Apa iya permusuhan kita tabur di negeri sendiri? 

Bangsa yang besar 
Adalah yang menghargai sejarahnya sendiri 
Dan tentunya mengukir sejarah yang indah 
Di masa kini 
Juga nanti 

Bersatulah 
Buatlah sejarah yang apik tentang kita para pemuda 

Maknailah ikrar itu 
Ikrar yang membuat kita dikenal dan berjaya 82 tahun yang lalu 

Maknailah kita satu nusa 
Maknailah kita satu bangsa 
Dan kita satu bahasa 

Berprestasilah 
Gemilanglah 
Ingat, globalisasi di depan mata 

Hentikan tawuran-tawuran rutin itu 
Yang membuat kalian terkenal sebagai pemuda 

Dulu sekali kita pernah pecah 
Karena penjajah 
Jangan sekarang kalah 
Karena egoisme gejolak muda 

Keberhasilan Indonesia 
Ada di tangan kita.(gn) 

*ditulis sebagai kritik di hari Sumpah Pemuda terhadap maraknya tawuran pelajar, mahasiswa serta golongan muda lainnya yang marak terjadi beberapa tahun terakhir.

18.7.11

ABSTRAK

Matanya nanar. 
Terbayang lukisan di etalasenya. 
Lukisan yang hendak ia lukis di atas awan, 
di atas awan yang berkabut. 

Ragu, tapi berusaha ia tegaskan. 
Bingung, namun telah ia tentukan. 
Diambilnya kuas. 
Disapukannya lembut dalam cawan akrilik. 

Digoreskan olehnya pelan, 
namun pasti ke kanvas berbahan karung goni. 
Coretan yang mengandung garis tegas, 
namun berwarna misteri. 

Ketidakpastian itu terus berusaha diterjangnya. 
Dirangkaikan olehnya dengan sebuah mimpi bahwa akan indah pada akhirnya. 

Dan, sejuta windu sudah. 
Lukisan itu belum juga menunjukkan senjanya. 
Dan wanita rapuh itu, terus mengindahkan maha karyanya. (gn)

18.6.11

ASA



Lukis asa itu my dear. 
Rangkai secara apik dengan bahan yang kata mereka seperti belatung yang tak pantas beranak pinak di teratai. 

Gagahi kepicikan mereka my dear. 
Dengan keterbatasanmu. 

Percaya, ada saatnya my dear. 
Pada akhirnya kita menari-nari di atas kebecusan yang mereka agung-agungkan suci. 

BERSAMA. Kita lukis asa itu. (gn)

6.6.11

Acting

Kulihat cinta berbinar di sana
Tatkala aku menatapmu dengan mata tertutup

Dan ketika kubuka mataku
Ternyata memang ada cinta

Semua bukan mimpi!
Tetapi, shit! Sial, hanya adeganmu di film.
(gn)

18.5.11

SSSTTT

Tak ada yang tahu dia membeli dengan sangat mahal. 
Tak ada yang tahu dia menjaga dengan sangat teramat sangat. 

Tak ada yang tahu ia menyeka air mata ketika menetes. 
Tak ada yang tahu kesetiaannya untuk keluh kesah dan kecerewetan. 

Tak ada yang tahu berapa liter air mata yang dikeluarkannya. 
Tak ada yang tahu seberapa besar pengorbanannya. 

Ia yang tak sempurna. 
Tak pernah terlihat sempurna. 

Tapi ia membuat kesempurnaan di batin dan raga seorang yang biasa. 
Mengukirnya menjadi semangat, 
yang melahirkan jiwa hebat, dalam diri seorang yang jauh dari luar biasa. 

Sssttt...! Dan aku tahu itu. Sebagai sebuah rahasia. 
Ssttt...! (gn)

*untuk ibu-ibu di seluruh dunia

22.4.11

Merenda Harap



Kalaulah... 
Sulit menjadi kenyataan 

Kalaulah... 
Takdir telah berkata demikian 

Bahwa api adalah panas 
Bahwa es adalah beku 
Bahwa darah adalah merah 
Bahwa mati adalah pasti 

Angan sekadar ikhtiar untuk pencapaian 
Meski tertatih 
Meski terlunta 
Meski terjatuh 
Semoga restu senantiasa menaungi 
Menyapu peluh 
Mewangikan keringat 
Menyenyumkan seunting pasrah 

Harumlah perjalanan 
Walau tujuan jauh berkibar 
Walau sandungan bertebaran 

Percaya... 
Nanti... 
Buah pasti terpetik. (gn)

18.3.11

Hari Ini, Esok dan Seterusnya

Menikmati, 
apa yang bisa direngkuh saat ini. 

Menjalani, tapak demi tapak yang sanggup dilewati. 

Hari ini.... tak mau, 
tak mau berkhayal lebih atas kuasa esok. 

Besok adalah cerita lain, 
namun hari ini adalah yang akan terkenang kemudian hari. 

Selama kebersamaan masih bisa dijalani. 
Selama nikmat perhatian masih mampu diresapi. 
Sungguh syukur atas hari ini. 

Dan esok.... kuharap masih ada seperti saat ini. 
Begitu seterusnya, 
hingga maut menjadi jawaban berakhirnya hari. (gn)

HELA

Dan waktu pun terus berjalan. 
Membuatku terseok-seok melewati celah sempit juga gelap itu. 

Sialan, 
bandit-bandit brengsek masih juga mengejarku. 

Tulikah mereka bahwa aku sedang menggandeng citaku? 

DOR...! 
Mati kau bandit! 

Dan kau? 
Kabarkan pada lainnya, 
aku masih menunggu bubuk mesiu dihiaskan di kukuku. (gn)

23.2.11

Senandung



Otakku bekerja keras 
Mematahkan sembilu yang mungkin 

Tenaga terkuras 
Namun rasanya puas berproduktif 

Gairah muda 
Semangat yang hangat di dada 
Menggauli masalah 
Mengkreatifkan cerebrum agar terasah 

Rasanya sungguh mendewasakan 
Memekikkan proses tuk selalu pandai berhikmah 

Terimakasih masalah...! 
Akrablah denganku namun jangan membunuhku 
Kita sahabat bukan? 
Dan kau tahulah itu. (gn)

18.2.11

Ruang Sempit Bertuan


Dimanakah itu? 
Ruang sempit dengan gang yang sesak oleh riuh jenaka, kesal juga deru motor. 

Dimanakah itu? 
Ruang sempit dengan bos super duper kuasa. 

Bukan, 
bukan ruang sempit ala kadarnya yg hanya cukup untuk menggorok raga juga brain. 

Bukan, bukan itu. 

Ah, muak aku mencari engkau yang sembunyi entah dimana. Berapa keringat sudah? 
Berapa jerawat sudah? 

Ruang sempit bertuan yang entah dimana rimbanya. (gn)

22.1.11

Sakau

Tanpanya dada ini terasa sesak. 
Aku bingung mencarinya bila tiada. 
Dia hati lapangku. 
Oksigen untuk paru-paruku. 
Aku sungguh sulit bernafas bila tak kutemukan ia di saat-saat tersulitku.

Betapa berat jalani semua tanpanya. 
Tak ada lagi yang kupunya. 

Selain diriku, hanya dirinya. 
Semangat yang membuatku merasa dimiliki, 
merasa memiliki. 

Dimiliki hidup 
dan memiliki hidup. 

Memiliki bahagia.....

Apa yang ada, 
apa yang tersedia, 
kurang ramah untukku yang sebegini adanya. 
Telah kucoba bertahan, kuat, 
namun semua menghempaskan semaunya.

Hanya dia, 
yang masih mempertahankan, 
masih menjaga. 

Lalu bagaimana bisa aku hidup tanpanya? (gn)

19.1.11

Aku, Angin dan Debu

Memang
Bukan siapa-siapa
Atau
Juga apa-apa

Hanya....
Sebulir debu
Cuma....
Sebulir debu

Yang singgah
Ketika tertiup angin
Yang singgah
Ketika dibuai udara itu

Yang basah
Ketika terusap titik hujan
Yang terinjak
Tatkala tertindas alas itu

Hanya....
Sebulir debu
Cuma....
Sebulir debu

Bukan mau
Angin yang menerbangkanku
Karna aku hanya debu

Bukan maksud
Memerahkan mata itu
Anginlah yang menerbangkanku

Karna....
Aku hanya debu

Aku
Angin
Dan Debu

(gn)

10.1.11

Bahagianya (Dimilikimu)

Terulas senyum di bibir ini
Mengurai ulah bijakmu yang telah lalu
Kau indah
Bahkan sangat indah
Dalam cawan memori terbatasku

Siapa mengira
Ditemukan olehmu
Ketika itu
Ketika aku bahkan tak tahu
Bahwa aku akan ditemukan olehmu
Ketika itu

Terima kasih cinta
Bahagianya dimiliki olehmu

(gn)