Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

6.2.12

Choice

Re Post: Choice
Gambar dipinjam dari sini
"Harus, harus senyum, harus bisa bangkit," Bintang galau dalam batinnya. Bibirnya meracau sendiri sedari ia bangun tidur.

"Harus, tak boleh menangis lagi, harus bisa," Bintang masih bicara sendiri dengan hatinya. Berusaha mempengaruhi otaknya agar sinkron pada sugesti yang tengah hatinya suarakan. Tapi...,

"Ahh...," Bintang berteriak jemu lalu menendang kaleng cocacola di hadapannya.

"Bodooook.......," tiba-tiba ia berteriak lantang lalu pergi meninggalkan keramaian diskotik, mengagetkan orang-orang yang sedang berpesta malam itu.

************

"Gimana perjalanan kamu Bin?" tanya Lian sesaat ketika berhasil menemukan cewek tomboy itu diantara hiruk pikuk bandara Ngurah Rai, Bali.

Bintang hanya merengut lalu lima detik kemudian tersenyum dan menjawab cuek, "Yaaa...., gini dehhh. Hahaha..., cap cusss Li, aku sudah tak sabar untuk ngliat pantai," jawab Bintang lalu merangkul mesra sahabat semasa SMA-nya tersebut.

Lian ganti merengut. "Uh kamu itu ya..., ditanyain kabar malah gak tahu terimakasih gitu. Uda baik aku mau jadi penyandang dana selama kamu di sini," kata Lian sambil mencubit bokong Bintang.

Mereka berangkulan lalu tertawa-tawa sambil meninggalkan Bandara Ngurah Rai, Bali.

************

"Baliiiii......," Bintang berteriak begitu sesampainya di bibir pantai Sanur. Lian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kenorakan sahabatnya itu.

Dari tempat parkir mobil, dilihatnya Bintang bergerak ke arah pinggir pantai. Bintang tampak berusaha menyesapi udara laut dan semilir angin pantai Sanur. Kakinya dimain-mainkan menyentuh riak-riak kecil gelombang laut di pinggir pantai.

"Hati-hati Bin..., awas ombak!" Lian berteriak mengingatkan Bintang sambil menutup pintu mobil. Dari jauh tampak Bintang melambai-lambaikan tangan seolah bilang agar Lian tak usah mengkhawatirkannya.

Dua jam kemudian, Lian dan Bintang sudah asyik menyeruput es kelapa muda di salah satu warung tenda. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan dan liburan berdua mereka.

"Gimana Bin? Sedikit plongg??" tiba-tiba Lian berujar.

"Lumayannn, hahahaha," jawab Bintang sambil asyik menyeruput es kelapa mudanya dan memainkan sedotan.

"Kalau masih ingin lama di sini.., gak pa pa.., di sini aja dulu. Gak usah buru-buru balik ke Jakarta. Ya?"

Bintang hanya mengangguk. Tersenyum.

************

Suasana kantor sedang panas. Pak Bos, Gunawan Hendrajaya, berkacak pinggang sambil memelototi seisi ruang rapat pagi itu. Semua tertunduk, diam. Bintang juga.

"Siapa? Jawab! Siapa yang kemarin menjadi surveyor untuk nasabah gold kita? Siapa?," tanya Pak Gunawan dengan suara keras.

Takut, takut, Bintang mengacungkan jari telunjuk ke atas. Sambil terbata Bintang menjawab, "Sa sa sa... saya Pak."

Pak Gunawan semakin memelototkan matanya. Seperti raksasa yang siap menerkam.

"Kamu?" teriaknya sambil menunjuk muka Bintang dengan wajah kesal.

Sesaat suasana ruang rapat hening. Semua menunduk. Termasuk Bintang. Dalam batin, banyak yang ingin Bintang utarakan. Tentang kejadian kemarin, tentang pembelaannya dan tentang semuanya yang terjadi. Tapi ia hanya bisa diam. Karena ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan. Kehendak dan suara nasabah Gold bank tempat ia bekerja adalah yang mutlak dan utama bagi pimpinan bank. Pelayanan nomor satu wajib diberikan. Apapun. Bahkan sudah rahasia umum yang jadi kasak-kusuk di kantor bahwa Pak Hutama, nasabah gold kami yang juga komisaris direksi di salah satu perusahaan BUMN, adalah nasabah dengan pelayanan eksklusif account-account officer cantik di banyak bank termasuk di sini

Kemarin adalah tugas pertama Bintang untuk melakukan kunjungan nasabah. Selama ini ia hanya bertugas di dalam kantor untuk menerima klaim dan setoran nasabah-nasabah tingkat middle. Perasaan Bintang sesungguhnya sudah tak enak sejak manajer kreditnya memberikan tugas tersebut. Bukan karena enggan melakukan kewajiban kantor, tapi karena ia takut kasak-kusuk yang selama ini didengarnya akan menjadi bumerang bagi dirinya. Ia sempat mencoba meminta agar tugas tersebut dialihkan pada Tiwi, account officer yang selama ini memang menangani Pak Hutama. Tapi manajer kredit bilang, Pak Hutamalah yang meminta agar Bintang menjadi account officer pribadinya mulai sekarang. Bintang hanya bisa tertunduk.

Siang itu, dengan langkah sedikit ragu ia memantapkan batinnya untuk memasuki apartemen di kawasan Sudirman itu. Lantai 12. Dipencetnya penanda huruf 12 pada dinding lift. Lift bergerak pelan namun pasti menuju ke lantai 12.

Bintang memantapkan lagi hatinya ketika pintu lift terbuka. Ia berjalan, dan terus bergumam. "Aku harus bisa. Harus!" tegasnya dalam hati. Dan sampailah ia di muka pintu apartemen nomor 303. Dipencetnya bel pintu. Ditunggunya sesaat hingga pintu terbuka dan tampak pria usia 50 an di sana. Pak Hutama.

"Masuk," ujar Pak Hutama.

Bintang tersenyum dan mulai melangkahkan kaki memasuki ruang tamu kamar apartemen Pak Hutama.

************

Bintang berlari. Berlari meninggalkan apartemen di bilangan Sudirman itu. Berlari tanpa menoleh sedikitpun.

Kabur. Ya, masa bodoh dengan nasabah gold. Masa bodoh. Gak ada hubungannya pekerjaannya dengan pelayanan eksklusif yang apalah itu, serba merugikan dirinya. Gak ada hubungannya dengan profesionalitas.

Masa bodoh dengan fee dari kantor ataupun fee dari nasabah.
Masa bodoh.

Bintang menangis dan terus bergumam dalam hati. Ia tahu ia harus bangkit dan menghadapi hari pentingnya besok di kantor.

************

"Binn....," Lian menyenggol tangan Bintang.

"Eh eh.., iya?" Bintang terbangun dari lamunannya.

"Kamu itu..., tuhhh es kelapa mudanya kan sudah habis cinnn..., masih disedot-sedot juga, heran!" Lian tertawa.

Bintang gelagapan dan melihat bahwa memang es kelapa mudanya sudah habis tak tersisa. Ia tersenyum dan menggelitiki sahabatnya. Lian yang risih berusaha duduk menjauh namun Bintang tetap saja mendekat dan terus menggodanya.

Dua gadis ini tertawa-tawa. Lepas dan sesaat bahagia.

************

Matahari di pantai Sanur sudah hampir tenggelam. Lian dan Bintang bergegas pergi meninggalkan keindahan pantai Sanur.

"Aku siap jadi job seeker lagi Li," ujar Bintang.

Lian tertawa dan berkata, "Yakin loo?? Yakin?? Hmm bagaimana kalau di Bali?"

Mereka terkeukeuh, masuk mobil dan meninggalkan riuh malam yang segera bersiap di Pantai Sanur, Bali. (gn)

*BANK ADALAH PERUSAHAAN JASA KEUANGAN. BUKAN KEUANGAN DENGAN BONUS MENJAJAKAN BADAN.

4.2.12

Cinta Harusnya Tak Tuli

Gambar dipinjam dari sini
Kutengok ke atas. Tampak bulan bulat dan benderang. Membawa aroma keromantisan tersendiri bagi kami malam ini. Raymond mendekapku erat di tengah semilir angin pantai bali. Butiran pasir menghangatkan kaki kami berpijak. Dunia indah, bagi kami, malam ini.

“Bun…, apa kata anak-anak di telpon tadi?”

Aku tersenyum, menoleh untuk bisa melihat saksama wajah Raymond. Kubelai rambutnya.

“Mereka bilang kita harus menikmati liburan ini,” kataku sembari menyunggingkan senyum cinta.

Raymond tertawa genit, dan malam pun menjadi milik kami berdua.

**************************

Kulihat tubuhku masih terbalut selimut hotel yang berwarna putih.
Aku tersenyum, masih mengingat kehangatan yang kulewatkan semalam.

“Rannn….., apa kau sudah bangun?” kudengar priaku memanggil dari pojok kamar.

“Hmmm…,” kujawab malas dengan berdehem.

“Tolong ambilkan handuk sayangg...”.

Aku bangun dari tempat tidur, membaluti tubuhku sebentar dengan selimut, lalu bergegas ke arah rak untuk mengambil handuk.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dengan keras dan gagang pintu dibuka paksa.

Aku masih antara sadar dan tak sadar, kulihat pintu kamar terbuka dan kulihat Raymond di sana, bersama petugas hotel.

“Raymondd…,” aku terlunglai tak mampu bicara.

Raymond menghampiriku, menatapku dengan mata benci, diam sesaat lalu berlalu ke arah kamar mandi.

**************************

Entah sudah berapa lama aku ada di ruang ini. Aku hanya bisa tertunduk dan menangis. Kulihat priaku hanya bisa meringis menahan sakit dan memar akibat pukulan Raymond.

Di hadapan kami, dua orang pria berseragam sibuk menginterogasi, menanyai ini dan itu, menguak hal-hal yang tak ingin kami bicarakan.

Sementara wartawan menunggu di luar, sibuk memotret dan berusaha mengambil gambar kami dari  balik jendela, kegirangan, mendapat topik menarik tentang perselingkuhan.

Kutengok sebentar ke arah belakang, kulihat Raymond menatapku dengan bengisnya. Aku tertunduk, tak tahu harus bagaimana. Hanya terbayang wajah Raisa, Rika dan Roni, buah hati kami berdua.

**************************

Kulihat tubuhku terbalut selimut hotel berwarna kuning.
Aku tersenyum, mengingat romantisme semalam.

“Rannn…..,” Raymond mengecupku lembut dan bergelayut mesra memeluk tubuhku.

“Hmm?” aku berdehem dan menatapnya.

“Aku mencintaimu” katanya.
Aku tersenyum, menatapnya dan kulihat ada binar penuh kasih di sana.


“Aku juga,” kataku.

Kami berciuman dan melanjutkan pagi dengan cinta.

**************************


Aku bangun, membaluti tubuhku sebentar dengan selimut lalu berjalan pelan ke arah jendela hotel. Kutoleh kebelakang, Raymond masih tertidur.

Ingatanku kembali ke tiga bulan yang lalu, saat Raymond memergokiku di kamar hotel dengan pria yang kukenal di bar. Stres memikirkan pertengkaran hebatku dengan Raymond  benar-benar membuatku kalap tak berpikir dan mengingat keluarga kala itu. Semua hanya gara-gara aku cemburu berlebihan pada Raymond.

Sebagai ibu rumah tangga yang hanya tinggal di rumah dan mengurus tiga anak usia SD, sedang Raymond pria berkarir yang punya pergaulan luas di luar rumah, terkadang memang membuatku berpikir macam-macam tentang Raymond. Namun semua dapat keredam, hingga saat itu ketika tanpa sengaja setelah mengantar anak-anak ke sekolah, kulihat Raymond di salah satu gerai mall bersama seorang wanita. Dan wanita itu adalah Astuti, sekretarisnya. Niatku untuk belanja bulanan akhirnya tertunda karena pikiran macam-macamku mendorongku untuk menguntit mereka.

Kulihat Raymond dan Astuti masuk ke sebuah toko perhiasan. Raymond memilih beberapa jenis perhiasan yang ada, lalu Astuti mencobanya. Mereka terlihat akrab, sambil sesekali bercanda. Mereka kemudian pergi ke gerai ritel baju yang lumayan ternama. Dan apa itu? Mereka menuju space baju malam dan memilih-milih beberapa. Pikiran macam-macamku, ketakmampuanku membendung prasangkaku, mengarahkan kakiku bergerak, bergerak ke arah Raymond dan Astuti. Aku berteriak-teriak kalap, entah umpatan dan kalimat kasar apa saja yang keteriakkan saat itu. Aku kesal, aku benci. Aku mengomel dan sempat menampar Raymond. Kupelototi Astuti dengan penuh kebencian, aku benar-benar benci pada calon istri adik Raymond itu. Tanpa berusaha mendengar penjelasan mereka, aku menepis semua omongan Raymond. Raymond memburuku. Tapi aku pergi.

Stres dan kecemburuan menghantarkanku ke tempat yang sudah tak kusambangi sejak aku kenal Raymond 12 tahun ini. Diskotik benar-benar hiburan yang kuanggap tepat. Dan di sanalah aku kenal pria itu, pria yang dalam semalam mendengarkan penuh seluruh keluh kesahku. Dan terjadilah hal yang tak patut aku lakukan itu. 

Aku kesal karena tak dihargai atas pengorbananku menjadi istri.
Aku kesal mendapat pengkhianatan yang tak pantas ini. 
Dan aku ingin melepaskan bebanku.

Dan ya Allah..., betapa aku ingin mengelus dada. Mengingat ketololanku ketika itu.

“Hmm…,” aku berdehem berat sambil memandang ke luar jendela. Melihat ke bawah dan dapat kudengar hiruk pikuk keramaian kolam renang tempat kami menginap. Kutengok sebentar ke belakang. Raymond masih tertidur.

Tanpa kusadari air mataku meleleh. Aku menangis. Ya Allah mengapa cemburu buta membuatku tak berpikir waktu itu. Ternyata Raymond hanya meminta bantuan Astuti. Meminta bantuan wanita yang sebulan lalu resmi jadi istri adik iparku untuk membantu memilihkan kado pernikahan kami. Pernikahan tahun ke sepuluh kami. Mengapa tak berusaha kudengar penjelasan Raymond ketika itu? Padahal aku sangat mengenalnya. Bahwa dia setia, bahwa dia penyayang keluarga.

“Rann…,” kudengor Raymond memanggil.
Lamunanku buyar dan aku menoleh.

“Sini…,” pinta Raymond.
Aku berjalan mendekat ke arah ranjang. Lalu duduk di samping Raymond berbaring.

“Maafkan aku dulu…, kesalahanku karena mengajak Astuti. Harusnya aku ajak ibu atau mama untuk membantuku memilih,” kata Raymond.

Kucium lembut bibir Raymond. Raymond membalas dengan kasih.

“Sudahh.., maafkan aku juga. Kesalahanku jauh lebih fatal,” kataku menyesal.

“Kita lupakan yaaa...,” tutur Raymond, “Aku mencintaimu”.
“Aku juga,” jawabku.

Dan siang itu pun berlanjut menjadi milik kami berdua. (gn)

16.11.11

Aku Tiara

Gambar diambil dari sini
Bahwa saya kehilangan diri saya?
Mungkin.

Tapi menurut saya tidak sepenuhnya.

Saya hanya menuruti naluri.

*******

"Sai...., sini le...!" terdengar suara ibu memanggil-manggil dari dapur.
Aku bergegas datang

"Tulung (red: tolong) le...," pinta ibu begitu melihatku.

Aku pun bergegas sigap membantu ibuku menguleni adonan kue yang ada di tatakan meja.

"Buk ini tar kalau sudah dicetak dihias dengan apa buk atasanya?" tanyaku setelah beberapa lama memainkan adonan tepung yang ada di hadapku. Kulihat ibu sedang memanaskan oven kesayangannya.

"Terserah kamu ae le (red: le = sebutan pada anak laki-laki)," jawab ibu pendek.

"Bener ya bu terserah Sai," sambut aku senang.

"Yaaa, kan kamu paling ahli le urusan kaya gini," kata ibuku mendekat lalu mengusap kepalaku pelan.

*******

"Le bapakmu dateng le, ayo ayo cepat sembunyi sana le," kata ibu sambil lekas-lekas membereskan perlengkapan yang ada di meja dapur.

Mengerti apa yang ibu maksud, aku langsung pergi lewat pintu belakang yang ada persis di dapur.

Aku akan berpura-pura dari suatu tempat dan muncul lewat pintu depan, seolah usai melakukan sesuatu di luaran rumah. Yah itu yang harus aku lakukan.

Semoga semua baik-baik saja. Semoga ibu sempat menyembunyikan segala sesuatunya terkait aktivitas yang tadi kami lakukan di dapur. Semoga sajah.

"Tenang Tiara, tenang. Slow down," ujarku menenangkan diriku sendiri sambil berjalan mengitari sawah menuju ke bagian depan perkampungan rumah tempatku tinggal selama 18 tahun usiaku.

******

"Gimana pak urusannya di kelurahan tadi?" tanya ibu sambil mengiringi bapak ke dalam kamar.

"Yahhh, masih ada yang harus dilengkapi bune dokumen-dokumennya," jawab bapak.

*******

"Assalamualakummm," aku membuka pintu rumah dan kulihat bapak sedang membaca koran di ruang keluarga.

"Walaikumsalaaammm," jawab bapak lalu aku beranjak untuk mencium tangannya.

Bapak amat memegang yang namanya tata krama. Segala hal yang kurang patut menurut beliau pasti bakal membuahkan celotehan seabrek. Dan saya sangat mengenal beliau.

"Loh Sai, pipimu kenapa tuh?" tanya bapak usai saya mencium tangannya. Bapak mengulurkan tangan memegang bagian wajah saya yang beliau maksud.

"Alamaaakkkk," jerit aku dari hati. Kulihat dengan benar dan aku yakin itu adalah noda ulenan kue yang aku buat tadi dengan ibu.

Kulihat muka ayah berubah, "kamu bikin kue lagi?" tanyanya dengan nada keras dan cukup menggelegarkan seisi ruang di rumah sempit kami.

Aku hanya diam. "Bodohnya aku," maki aku dalam hati.

*******

Kulihat ibu sedang menangis di pojok dapur.

Alat-alat dapur berserakan dimana-mana.
Oven yang tadi kami pakai untuk memanggang kue bolu penyok di beberapa sisi.
Mangkuk, cetakan kue beserta kue di dalamnya yang masih setengah matang, karena proses pemanggangan terpaksa dihentikan ketika ayah datang tadi, juga sudah tak berupa. Beberapa bagian adonan kue bahkan membercak di tembok dapur.

Kulihat ibu masih menangis. Beliau menyesal sepertinya karena mengiyakan permintaanku untuk membuat kue bersama. Ibuku hanya seorang ibu yang berusaha mengikuti bakat anaknya. Dia juga adalah ibu yang ingin melihat anaknya bahagia.

Kulihat ibu masih tersedu-sedu. Sedangkan aku tak berdaya setelah dipukul habis-habisan oleh bapak dengan menggunakan rotan. Kali ini lebih sakit, lebih sakit dari yang lalu-lalu. Pukulan bapak mungkin mencerminkan kekesalannya yang jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Ketika aku tidak berubah. Dari yang diketahuinya memasak sembunyi-sembunyi di dapur. Memakai riasan ibu diam-diam. Bahkan aku pernah terpergok memakai baju kondangan ibu pemberian ayah.

*******

Nama saya Saiful.
Namun entah saya merasa saya Tiara.

Tiara lebih cocok bagi jiwa saya.
Tiara lebih pas untuk jiwa seorang 'perempuan'. (gn)

16.8.11

Membunuh Waktu

Gambar diambil dari sini
Roy Panggabean datang kemarin. Dia bertanya padaku, "Maukah kau menikah denganku?".

++++++++

"Serius loh San?" Rida memberondongku terus dengan pertanyaan-pertanyaan, "Lalu? Lalu? Gimana?".

Rida adalah sahabat baikku. Dia juga saksi naik turunnya hubunganku dengan Roy.

"Santyyy....," manja Rida padaku, "Jawab dunk ciiinnn".

"Belum," jawabku singkat.

"Hah? Belum? Belum apa?"  telisiknya sambil mengguncang-guncangkan bahuku.

Rida. Sahabatku sejak SMA ini memang pribadi yang unik.
Dia paling gampang penasaran.
Paling cerewet, lebih cerewet daripada ibuku.
Tapi sekaligus paling 'care' ke aku.

Yaahhh..., cuma Rida satu-satunya yang aku percaya untuk mendengar segala keluh kisahku setelah ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan awal tahun lalu.

"Santyyy," tegur rida membuyarkan aku dari lamunan tentang sahabat baikku ini.

"Aku masih minta waktu."

"Apalagi Sann yang ditunggu? Pacaran sudah dari jaman SMA. Lihat, lihat! Lihat? Tuh tetangga kamu, Pipin, temen SMA kita juga. Anaknya tiga. Kamu mau menikah umur berapa? Umurmu tahun depan kepala tiga byukkk....,"

Dan entahlah Rida berucap apalagi, tahu-tahu ketika terbangun aku sudah berada di kasur dengan seprei putih ini, yang mana bau obat menyengat dimana-mana.

Obat? Yah.., obat yang sudah berhenti aku konsumsi hampir sebulan terakhir. Aku benci obat. Daann..., oh ya bagaimana aku bisa terdampar di sini? Di tempat yang paling membuatku merasa mati walau kematian sendiri belum menyapaku.

+++++++

"Santy sayanggg...," Rida membelai rambutku pelan sambil berdiri di samping dipan tempat aku tiduran.

"Daa..., jangan bilang Roy ya? Please...," pintaku.

Kulihat Rida menganggukkan kepala. Entah tulus atau terpaksa takut membuat aku mendebatnya dalam kondisi seperti ini.

"Sudah sudah...," ujarnya menenangkanku, "Sekarang yang penting jaga kesehatan ya? Obatnya jangan sampai tidak diminum lagi".

Aku diam tak menjawab. Rida masih membelai dan mengusap rambutku dengan kasih sayang seperti seorang kakak pada adiknya.

"Rida.., oh Rida. Maafkan aku menyembunyikan semua kenyataan ini darimu," kataku dalam hati. Kugenggam tangannya. Kulihat matanya nanar. Mungkin kasihan, iba, entahlah. Mungkin juga miris melihat nasibku. Nasib seseorang yang akan segera menjemput mautnya dalam waktu dua bulan mendatang.

++++++++

Hari ini hari pernikahan yang aku tunggu-tunggu. Tepat jam 9 pagi, Gereja Santo Paulo Belitung.

Aku tersenyum. Melihat lelakiku, Roy, tampak gagah di kejauhan.
Memakai tuxedo putih, seperti pangeran impian di dalam mimpi-mimpiku.

Dia datang. Dia datang.

Dia berjalan ke arahku. Menjemput pengantinnya.

Haruku tak bisa tertahan. Air mataku menetes. Aku bahagia.

+++++++

Rida dan Roy menemaniku di samping tempat tidur putih ini lagi. Hari ini tepat 1 minggu usai hari pernikahan. Sekaligus hampir 2 bulan seperti yang divonis oleh dokter.

Aku menarik nafas, menghela pelan-pelan sambil memegang erat tangan mereka berdua. Mereka orang-orang terpenting dalam hidupku. Dua orang yang selalu ada untukku.

Aku tersenyum. Mencoba menyuguhkan senyum selebar-lebarnya, semanis-manisnya. Aku bahagia.

Nafasku mulai tak beraturan. Rasanya sangat sesak. Sesak sampai ulu dadaku.

Kuminta Roy mencium kening Rida, mencium istri yang telah dinikahinya seminggu lalu.

Jiwaku serasa tertarik. Aku bahagia. Dan aku melayang akhirnya. (gn)

29.7.11

Begitu Bermakna

Masih dapat kuingat momen itu. Ketika ia menatapku begitu lekat. Begitu dalam. Begitu dekat. Begitu bermakna.

Entah bagaimana aku menyembunyikan malu. Sedang tampangku teramat jauh dari syahdu. Jerawat-jerawat itu tengah tumbuh subur. Membuat pipiku memerah bersama malu. Guntingan poni itu juga tak serata hasil polesan salon. Rambut semrawut, begitu acak. Jangan tanyakan tentang wangi. Sudah tepat hampir seminggu aku lupa tentang keramas itu. Baju itu seadanya. Mirip gelandang. Tak ada pilihan, karena jujur tak ada lagi busana terbaik. Itu sudah yang paling baik.

Ia masih menatapku begitu lekat. Begitu dalam. Begitu dekat. Begitu bermakna.

Ia usap pipiku pelan. Memperlakukan seolah itu porselen mahal. Membuatku menatapnya dengan malu.

Ia rapikan poniku, menyingkirkan helai-helai yang mengganggu. Dan masih saja menatapku begitu lekat. Begitu dalam. Begitu dekat. Begitu bermakna.

Kukatakan padanya:
"Jangan.
Aku tak pantas.
Kasihan tanganmu."

Ia tak membalas. Semakin menatapku begitu lekat. Begitu dalam. Begitu dekat. Begitu bermakna.

Ada kasih di sana. Di dalam mata itu.

Ada peduli di sana. Di dalam mata itu.

Dia masih terus menatap. Dan membuatku malu.

Hari itu, dia sentuh jariku. Diciumnya pelan. Dan berkata:
"Aku cinta sama kamu"

Dikatakannya dengan mata yang sama. Begitu lekat. Begitu dalam. Begitu dekat. Begitu bermakna.

Dan aku..., aku malu.

Kulihat lagi mata itu. Begitu tulus. Sungguh bermakna.

"Aku mencintaimu.
Apa adanya,"
katanya lagi.

Wajah legamku semakin menunduk. Malu. Pantaskah aku? Siapkah dia menghadapi dunia bersamaku? Malu itu bercampur takut. Dan takut itu bercampur malu.

Diangkat olehnya daguku. Kulihat lagi mata itu. Masih, masih ada sinar itu. Sinar cinta itu.

Tak ada takut di sana. Dan kurasakan nyaman bersamanya.

Digenggamnya tanganku erat. Dan kutahu, ia mantap melangkahkan kakinya bersamaku untuk menantang dunia.

Matanya.., mata yang selalu menatapku lekat. Dalam. Dekat. Dan bermakna. Mata yang mengasihiku. (gn, 070111)

14.5.11

(Apa) Aku Anak Sial

Gambar diambil dari sini
"Raisaaa...," panggil nenek ketika aku beranjak meninggalkan rumah dengan membawa setenteng tas besar.

Aku hanya menoleh sebentar dan kumantapkan kakiku melangkah lebih jauh meninggalkan pintu rumah lalu lenyap menghilang dari perkampungan padat yang sudah kutinggali selama seumurku itu.

*******

"Anak perempuan seperti apa kau?" bentak mamaku sehari sebelumnya.

"Ini salah, itu salah, apa yang bisa kau lakukan?" papaku turut mengomel di samping ibuku. Aku hanya terdiam sambil menggigiti ujung-ujung kukuku.

"Hei....," mama mengguncang bahuku sedikit keras.

"Dengar tidak?" ucap mamaku. Kulihat mukanya kesal sangat hampir mirip nenek sihir yang aku tonton di DVD-DVD pemberian nenek.

*******

Aku masuk kamar, kulihat nenek menangis.

Melihatku datang, beliau beranjak dan menyambutku dengan pelukan.

"Sabar ya nduk," tutur nenek sambil mengusap pelan rambutku.

Aku terdiam.

*******

Anak sial.
Demikian cap yang ditorehkan di otakku.

Bahwa aku pembawa bencana.
Bahwa aku penebar tulah.
Bahwa aku tak menyumbang energi positif apapun.
Bahwa aku memberikan luka pada banyak hati keluarga.
Bahwa aku anak yang sesal karena telah dilahirkan.
Bahwa aku membuat rugi.

Bahwa aku si anak sial.

*******

Kuseret kakiku yang pincang sebelah.
Bukan mauku lahir seperti ini. CACAT.

Mereka bilang aku juga cacat mental. Tapi nenek bilang aku spesial.
Entahlah mana yang benar.

Umurku sudah 30 tahun. Tapi aku masih suka memakai baju seperti keponakanku, anak dari adikku. Aku juga gemar menemaninya bermain boneka barbie atau teddy bear. Aku suka sekali.

*******

Mama papa bilang aku anak sial.
Tapi nenek bilang aku spesial.

Kuayun kakiku menuju surga. Surga yang kata nenek adalah tempat orang-orang yang penuh kasih. Aku langkahkan kakiku naik bis kota. Di depannya tertulis SUKABUMI. Asyik aku akan segera sampai ke tempat orang-orang yang suka dengan bumi.

*******

Di kamarnya nenek menangis sesenggukan.

"Raisa, kenapa kamu pergi?" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

"Kemana kamu nduk? Kamu kan tidak tahu mana-mana,". (gn)

13.4.11

GRIYA TRESNA

Gambar diambil dari sini
Griya Tresna. 
Demikian kami menyebutnya. Sebuah hunian sederhana berlapak sayang dan beratap kasih. Cinta? Jangan ditanya, tentu saja ada. Karena cinta itu adalah kami. Tres dan Na. 

Griya kami cukup sederhana. Bahkan mungkin terhitung amat sempit buat dihuni oleh kami berdua. Tapi Tres selalu bilang pada saya, "Sedikit demi sedikit kanda akan mewujudkannya menjadi yang terbaik, yang ternyaman buat dinda, juga anak-anak". "Kanda yakin bisa?" ujar saya ragu. 

Entahlah, saya berusaha mempercayai Tres, tetapi rasanya sulit untuk satu ini. 
"Bisa dinda. Percaya pada kanda. Ini kanda sedang berusaha," jawab Tres sambil merangkul halus pundak saya. 

Sejenak saya diam. 
"Apa iya bisa?" gumam saya dalam hati. 

Maklum Tres saat ini baru meniti karir. Kepayahan rasanya bila ia melakukan itu sebelum kami menikah. Buat sehari-hari saja rasanya sudah mencekik leher. 

"Na....." tegur Tres dengan penuh kelembutan. 
"Hmm, iya," jawab saya begitu tersadar, "Na percaya. Na tahu kanda selalu berusaha memberi yang terbaik pada Na. Makasi ya..," kata saya sambil mengelus lembut pipi pria yang paling saya sayangi ini. 
"He eh sayang. kanda tak akan kecewain dinda," Tres kemudian berlalu setelah membalas dengan mengecup pelan kening saya. 

Saya tahu dia serius. "Aku akan selalu mengiringi perjuanganmu kanda," gumam saya pelan.  

 ........5 tahun kemudian

"Bagaimana semua? Sah?" tanya bapak tua dari Kantor Urusan Agama yang duduk di depan Tres pada segenap orang yang mengelilingi kami. 
"Saaah," jawab mereka kompak. 

"Alhamdulillah..," ujar bapak tua itu lagi kemudian melanjutkan dengan memimpin doa. 

........... 2 jam setelah itu 

Tres menggandeng saya pelan diikuti oleh kedua orang tua kami masing-masing di belakang.  

"Terimakasih ya kanda buat mas kawinnya. Semoga Griya Tresna ini menjadi barokah buat kita dan keturunan-keturunan kita," bisik saya pada Tres. 

Kemudian Tres menggendong mesra badan saya memasuki griya itu, diiringi tawa cekikik dari kedua orang tua kami berdua di belakang. (gn)

16.3.11

Baby Wanted

Gambar dipinjam dari sini
Ketakutan itu semakin mengkanker, tepat pada tahun ketiga pernikahan kami. Entah mendosa apa yang pernah kami lakukan sebelumnya, hingga keberadaan seorang janin belum juga mampu tumbuh di dalam rahimku. Padahal semua sudah sangat-sangat menunggu. Jangankan mereka, kami-lah yang sangat-sangat-sangat menunggu. Lebih menunggu dari mereka yang dengan gampang berucap itu, itu dan itu. Kami mendamba, sangat mendamba. Toh pasangan mana yang tidak berharap memiliki manusia mungil hasil pernikahan mereka? Jadi aku beritahu sekali lagi, kami sangat mendamba. Jadi tak perlulah kalian dengan gampang berucap itu, itu dan itu! Memangnya kami mesin yang kalau dioperasikan dengan gampang mampu mencetak hasil? Kami manusia tahuuuu...!!!


..................................................................

"Ma...," aku menghempaskan diriku di kursi empuk yang ada di depan kolam renang dan bergelanyut mesra pada bahu mama yang sedang asyik merajut.

"Hmm?" Mama hanya melirikku sebentar, melepaskan gandengan tanganku lalu menekuni rajutannya kembali.

"I ih mama...," aku menaruh kedua tanganku depan dada, menghela nafas, sedikit menunjukkan bahwa aku ngambek.

"Apa sihh," mama menengokku, lagi-lagi cuma sebentar lalu dua detik kemudian asyik dengan rajutannya kembali.

Aku menarik nafas pelan, lalu menyenderkan kepalaku pada bahu mama.

"Aku dan mas Bram uda periksa ma...," aku mulai curhat.

"Terusss?" mama masih saja asyik memainkan tangannya membuat simpul-simpul rajutan.

"Hasilnya sih.., sehat-sehat aja ma..!" aku berkata dengan memasang muka ditekuk cemberut, tapi mama tidak memperhatikanku. Aku mulai mengangkat kepalaku, tidak lagi bersandar di bahu mama. Berganti, aku menendang-nendang angin di depan kakiku, sambil masih duduk di samping mama, berusaha mencari perhatian mama.

Lima menit, sepuluh menit, aku masih menunggu reaksi mama. Hingga 20 menit pun berlalu, kulihat mama sudah hampir menyelesaikan lengan sweater rajutannya.

Aku berdiri dari duduk, bergegas meninggalkan mama mertua yang sama sekali tidak menggubrisku. Kini, 2 langkah lagi aku akan masuk ke pintu rumah hingga aku dengar sebuah suara, "Rosss....," aku menoleh. Ya itu suara mama.

"Pokoknya lebaran ini sudah harus ada cucuku di perut kamu. Kalau tidak...," mama menghentikan suaranya.

Aku melangkah masuk, tak menunggu ucapan mama selanjutnya. Bukan tak penasaran, tapi karena aku sudah tahu lanjutannya. Ya, mama sudah berkali-kali mengatakannya. Aku pun sudah berkali-kali mengungkapkan isi hatiku. Namun rasanya, percuma mengharap pengertian lebih dari mama.

..................................................................

Mas Bram berusaha menenangkan aku yang sedang menangis tersedu-sedu di atas ranjang. Keadaan ini memang sulit bagi kami berdua. Bulan depan sudah masuk awal puasa. Dan tadi, ketika sedang makan malam mama kembali mensomasi dan menteror keinginannya untuk mendapat cucu dari putra satu-satunya. Kali ini lebih pedas, lebih menyakitkan dan jujur aku sangat sakit, hatiku teramat sakit.

Aku akhirnya tertidur di atas pangkuan mas Bram, entahlah sepertinya sudah 2 jam-an aku menangis. Sedari aku menangis, mas Bam berusaha (lagi, lagi, dan lagi) meyakinkanku bahwa ia tak akan menuruti keinginan gila mamanya yang akan menjodohkan dengan wanita yang diminta mamanya untuk jadi istri kedua. (gn)

1.11.10

Hujan Yang Sempat Terlupakan

Gambar diambil dari sini

Rintik-rintik hujan menghantarkanku pada sebuah lamunan.

Masa itu, ketika rintik hujan juga membayang. Ketika aku masih muda. Ketika aku masih belum tahu apa-apa.

Ketika aku masih perjaka.

***

"Indra Hasta Purnomo!!!" ibu menyebut lengkap namaku, membelakkan matanya tak percaya pada apa yang ia lihat. Ada api yang besar di matanya. Seolah siap membakarku, hidup-hidup.

"Apa yang kamu lakukaaan?" bentaknya padaku sambil mengambil benda runcing itu dari genggaman tanganku.

Sekujur tangan dan beberapa bagian bajuku berlumuran cat, berwarna merah.

***

15 menit berjalan. Aku masing riang bermain hujan-hujanan.

Yah, ibuku yang marah yang memintaku untuk bermain air hujan. Katanya agar baju dan tanganku jadi bersih. Agar noda cat itu menghilang.

Aku sayang ibu. Aku selalu menurut pada ibu.

***

"Ibumu pembunuh!" maki tetangga-tetangga bawel itu pada suatu hari.

Aku yang mendengarnya hanya bisa bengong tak mampu memahami.

Aku tahu mereka bohong. Ibu sendiri yang pamit padaku bahwa ia berangkat bekerja ke luar negeri. Nenek, yang menjagaku sekarang juga bilang demikian.

Sedang ayah tiri jahat itu, pergi ke Pulau Sumatera. Meninggalkan Lombok untuk bersama temannya. Neneklah yang bercerita padaku.

Ah, pasti teman yang dimaksud adalah tante-tante centil yang selalu menggoda ayah tiriku itu, yang membuat ayah suka memukuli ibu dan lupa pulang.

Masih kuingat, terakhir bertemu, aku bermain perang-perangan dengan ayah. Akulah yang menang. Ayah kalah dan terbaring di lantai. Bahkan sebelumnya ia bilang "ahhhh", seperti layaknya musuh kalah dalam peperangan.

***

Kini, ketika hujan didesirkan oleh angin di jendela kamarku, kudengar kabar itu. Ibu bukan di Malaysia. Tapi masih di sini, satu kota denganku.

Dan kuingat lagi, warna merah itu bukan cat, bukan! Tapi...,

Ah, baru kuingat.

Kutusuk ulu ayah waktu itu, ketika rintik hujan membayang. Ketika aku masih muda. Ketika aku belum tahu apa-apa.

Ketika aku masih perjaka.

***

Kasihan ibu, ia menggantikanku. (gn)

6.10.10

Putus di Asa

Gambar dipinjam dari sini
Entah kapan tepatnya pikiran ini muncul. Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Semua ini gara-gara niat Rika meminta pisah. Ya, surat dari Pengadilan Agama Cibinong sudah sampai di tangan saya seminggu yang lalu. Saya digugat cerai oleh istri yang sudah saya nikahi hampir tiga tahun itu. Dan keinginan itu tiba-tiba saja muncul. Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Masih terngiang dan terukir indah di kepala, ketika keluarga besar Rika menolak mentah keputusan saya untuk menyunting Rika sebagai istri ketika itu. Padahal kehamilan Rika tak bisa menunggu lagi. Hingga akhirnya bak cerita di film kami sepakat untuk kawin lari. Menjauh dari keluarga, menikah diam-diam dan hidup akhirnya bersama anak kami, Ronald.

Ronald adalah semangat saya. Semangat saya untuk kuat mengarungi bahtera rumah tangga yang memang sudah kacau balau sejak awal pernikahan lari kami. Keterbatasan ekonomi karena saya hanya bekerja sebagai kuli, membuat Rika sering marah-marah karena merasa kebahagiannya berbalik 360 derajat dari kehidupannya sebelum kami menikah.

Rika putri dari Bupati ternama, sedangkan saya? Hanya sopir pribadi Rika selama ia menjadi anak kuliahan di salah satu universitas ternama di Bandung. Entah karena terbiasa bersama-sama dimana sayalah orang yang paling rajin menemani Rika setiap harinya, atau karena ia memang merasa kurang perhatian dari kedua orang tuanya yang memang sibuk dengan kegiatan sosial dan politiknya, cinta itu tumbuh pada kami. Hingga malam yang dingin akhirnya menumbuhkan Ronald di rahim Rika.

Sekali lagi, Ronald adalah semangat saya. Dan saya? Saya sangat mencintai Rika. Walau saya tahu, sulit untuk saya untuk mewujudkan segala keinginan duniawinya. Tapi, saya sudah berusaha. Bekerja siang malam, jadi kuli, jadi babu, semua saya saya lakukan. Tak lain hanya untuk Rika dan Ronald.

Memang, dapat saya maklumi tak mudah bagi Rika menjalani kehidupannya yang tak lagi bergelimpangan materi. Karena itu saya diam, walau saya tahu diam-diam ia menjalin komunikasi kembali dengan ibunya dan meminta ibunya mengirimkan sejumlah uang. Saya hanya berpikiran positif, ini bagus untuk kembali menjalin silaturrahmi yang retak. Saya juga diam, walau saya tahu ibunya berusaha merayu Rika untuk meninggalkan saya. Saya tahu, Rika tidak akan meninggalkan saya. Itu setahun yang lalu.

Hingga, tiga bulan lalu saya memergoki Rika berduaan dengan Onci, pria lulusan luar negeri yang sejak dulu getol dijodohkan nenek Ronald pada Rika. Hingga, saya yakin hubungan mereka tak lagi hanya sekadar teman. Rupanya nenek Ronald sukses mendekatkan mereka selagi saya sibuk membanting tulang sebagai kuli dan babu.

Saya beranikan menegur Rika. Saya memintanya untuk menghentikan semuanya demi Ronald. Tapi Rika bilang, ini semua demi Ronald. Ya, ini semua demi Ronald, begitu kata Rika. Malah a lantang meminta cerai. Padahal walau harga diri terinjak, saya masih memaafkan Rika, karena saya mencintainya dan Ronald adalah semangat saya. Tapi Rika bergeming, ia bilang semua ini demi Ronald. Ia berucap lelah dan berteriak bahwa cinta saja tak cukup baginya dan bagi Ronald.

Saya ingin Tuhan membunuh saya dengan caranya. Saya kehabisan pikir, saya kehabisan akal dan berharap akhir hidup menjadi jalan.

Surat panggilan sidang pertama masih di genggaman saya. Berbagai upaya untuk merayu Rika sudah saya lakukan. Bahkan berlutut di kaki ibu dan ayah Rika.

Saya sangat kehabisan pikir, saya sangat kehabisan akal dan saya sungguh berharap akhir hidup menjadi jalan.

Saya ambil silet yang ada di pojok almari. Beberapa menit hening. Dan saya hanya sempat melihat kucuran darah mengalir dari sela-sela jari. (gn)

4.10.10

LELAKON

Diajeng Sinta merengek pada Arjuna. Menarik tali demi tali simpati, dalam simpul kebekuan lelakinya.

Tak ada tangis, tak ada juga canda. Hanya rengekan, rowengan penuh arti dari batin wanita. Yang entah saking gilanya, di dengar dengan penuh kelembutan oleh sang pangerannya.

Arjuna gila, teriak Sinta pada jagat istana. Membuat lantai retak dan angin pun kabur dari hadapannya.

Seketika matahari menyingsing, menunjukkan gelagatnya. Terpukau suara gadis pujaan rajanya.

Awan pun tertunduk, menghormat dengan malu. Teringat titah pengayomnya.

"Jagalah belahan jiwaku, dinginkan aku selalu saat bersama emosinya". Sabda Arjuna pada saat menemukan Sinta. (gn)

27.9.10

ROMANTISME MALAM

Gambar diambil dari sini
Suara lenguhan nafas, tetesan keringat juga rasa yang nikmat. Itulah yang tengah menjalari sekujur tubuh Eko sekarang.

"Fyuhhh," Eko menarik nafas panjangnya ketika berhasil mencapai lagi puncaknya.

Malam ini adalah malam yang indah. Ia bisa asyik mengadu nafsu dengan istrinya tanpa diganggu sedikitpun oleh Rahmat, putranya. Bayi berusia 2 tahun itu tengah terlelap di bagian lain dalam kamar itu.

+++

"Tiap hari pulang larut. Selalu begitu!" roweng Rina pada suaminya, "Ada selingkuhan yang ditengoki, iya?"

Eko hanya diam.

"Heh, tuli a? Ngomong kalo sudah bosan. Aku ini juga, capek punya suami gak pernah bisa ngasi sandang pangan buat anak. Istri apalagi. Nelongso akuu!" perempuan 28 tahun itu terus saja memberondong Eko dengan sejuta omelan.

"Diammm," gertak Eko, capek mendengar istri yang sudah dinikahinya selama 5 tahun itu nyerocos dan menuduh ia tanpa henti.

Bukannya diam, perempuan bertahi lalat di pipi tersebut semakin memperpanjang dan mempertajam protes-protesnya. Makian, cacian, segalanya ia luapkan untuk menumpahkan rasa kesalnya.

"Diammm," perintah Eko sekali lagi, "Kalau tidakk....".

"Apa kalau tidak? Bunuh? Seperti yang sering kamu bilang? Bunuh saja," Rina menantang.

"Dasar istri jahanamm, kubunuh kauu!" Eko yang geram langsung mengambil pisau yang waktu itu kebetulan ada di dekat tempat Rina berdiri.

Jleeppp. Ia menusukkan pisau itu tepat di jantung wanita yang dikenalnya di rumah bordir itu, 7 tahunan yang lalu.

+++

"Nah, kalau seperti ini kamu tampak manis sayang," puji Eko pada istrinya, "Kamu terlihat sangat seksi".

Rina tak bergerak. Badannya ditindih oleh tubuh kekar suaminya. Tak ada sehelai benangpun.

"Kamu sangat manis sayang, kamu memang menggemaskan bila diam," kata Eko lagi.

Malam pun semakin larut dan pria 35 tahun yang pernah dipenjara karena membunuh ayahnya ini pun terus memburu nafsunya. Hingga akhirnya ia terlelap tidur setelah melalui 3 ronde ejakulasi.

Dan Rahmat, putranya, masih saja tidur dengan nyenyaknya. (gn)

26.9.10

SEKAK

"Bune!" teriak Kasim yang tengah duduk di kursi makan, "Aku mau berangkat".

"Iya Pakne. Iyaa," jawab Sumini sambil berjalan tergopoh dari pawon. Segera ia menuju bufet lalu menyamber tas kerja di sana.

"Ini Pakne," ujar Sumini begitu sampai di hadapan suaminya. Langsung saja diserahkannya tas tadi.

"Yo wes. Aku budal. Doane," kata Kasim beranjak dari duduk.

"Hati-hati di jalan," pesan Sumini. Diciumnya tangan suaminya itu.

"Hati-hati Paknee," pesan Sumini lagi setengah berteriak ketika Kasim berlalu 3 m dari rumah. Entah, meski 10 tahun terbiasa menghantar suaminya, baru kali ini perasaannya berkecamuk tak karuan.

"Semoga lancar," gumam Sumini mengelus dada. Ia bersandar di daun pintu, melamun sesaat hingga ada anak kecil yang menjawilnya.

"Buk!" terdengar suara.

"Oh," Sumini kaget, "Oalah nduk, kamu. Ada apa?" Sumini tersadar dari lamunannya.

"Besok Atik sekolah kan Buk? Bapak nanti bawa uang kan?" tanya anak 8 tahun itu polos.

"Iya nduk, iya. Besok Atik sekolah. Besok Atik bayar SPP 3 bulannya. Ya?" tutur Sumini lembut lalu memeluk putri tunggalnya.

"Ayo belajar dulu sana di kamar," pinta perempuan 40 tahun itu dan dituruti tanpa bantahan oleh Atik.

"Fyuhh," Sumini menarik nafas. Teringat akan hutang-hutang segunung itu.

Biaya kontrakan yang nunggak 3 bulan, hutang beras di warung sebelah, hutang di tetangga, biaya sekolah Atik, biaya perawatan ibunya di rumah sakit bulan lalu yang pinjam dari rentenir, juga uang yang harus dikembalikan suaminya setelah di PHK dan difitnah mencuri uang kantor.

**

Matahari terik di peraduan. Baru saja Sumini selesai menjemur pakaian.

"Asalamualaikum," terdengar suara dari luar. Ada tamu ternyata.

"Iyaa," sahut Sumini sambil berlari kecil ke teras.

"Hah polisi," sebut Sumini dalam hati begitu melihat siapa tamunya.

"Anda istri Pak Kasim?" tanya polisi itu.

"Iya benar".

"Saya dari Polsek Mampang. Pak Kasim kena hajar masa saat mencopet di bis. Kondisinya kritis".

"Apa?" teriak Sumini lalu tak sadarkan diri. (gn)

7.7.10

End

Terimakasih untuk kebersamaan selama 5 tahun ini.
Kau tahu aku sangat bersyukur kau memberiku dua hadiah maha berharga.
Mungkin kita memang harus selesai.
Anak-anak biar ikut aku.


Surat singkat itu kutemukan ada di genggaman Lastri yang tidur terbujur kaku. Aku menjerit, kulihat ke dalam kamar, Sari dan Delon bersimbah merah di atas ranjang. (gn)

26.6.10

IZINKAN AKU PERGI

Entah sudah berapa lama aku terlelap hingga akhirnya tersadar dari tidur. Kulihat sekelilingku, kuamati satu persatu benda yang ada di sana.

"Huuhhhhh," lenguhku panjang.

Sialan, ternyata aku masih saja di sini. Seperti kemarin, seperti dua hari lalu, bahkan seminggu yang lalu.

Jujur aku sudah bosan. Ini bukanlah tempatku. Dan hanya satu hal, "Aku ingin pulang," hatiku menjerit-jerit meneriakkan tiga kata ini.

Terbayang di kepalaku, "Ayahku". Siapa yang mengurusnya. Kakek tua yang merepotkan dan menyebalkan. Apa mau tetangga-tetangga sombong itu membantu mengurusnya?

Andai saja oh andai saja. Andai saja waktu itu ayah tidak mengajakku yang masih belia pergi merantau ke Jakarta. Mungkin nasib kami tidak seperti ini. Meskipun hidup ala kadarnya dengan bertani, masih ada opung, oma, paman, bibi juga kerabat-kerabat dekat lain. Setidaknya kami masih memiliki keluarga juga sanak tetangga yang saling peduli.

Sedang di sini? Haha, orang-orang terlalu sibuk untuk dirinya sendiri.

"Ayaahh," gumamku pelan.

"Semakin lama aku di sini, itu beban namanya," mantapku menguatkan diri.

"Kenapa tukang ojek itu membawaku ke sini? Mestinya biarkan saja mati di pinggir jalan," gerutuku.

Lekas kulihat sekeliling.

Sepi.

Pelan-pelan kulepas semua tetek bengek yang dipasang di badanku. "Aduh," keluhku sakit.

Dengan badan lunglai aku bangun. Segera aku berjalan mengendap, berharap tak ada seorangpun yang tahu.

Kubuka pintu pelan, lalu kulongokkan kepalaku untuk mengintip, "Aman".

Segera kuteruskan langkah menuju lorong gerbang. Sampai akhirnya agak jauh tiba-tiba terdengar suara, "Bu Rohana mau kemana? Bu! Bu!"

Aku yang lemas merasa semakin tak kuat menopang tubuh. Hingga akhirnya badanku ditangkap oleh orang-orang berseragam putih itu.

++++

"Pasien DBD itu sudah diberi penenang Dok! Demamnya masih tinggi," lapor seorang perawat pada dokter jaga.

++++

Esok hari muncul headline di koran lokal setempat:

"Merasa Tak Mampu Bayar Biaya RS, Pasien Mencoba Kabur 3 Kali". (gn)

28.5.10

Dilema Lajang

Gambar diambil dari sini
"Main ke rumah yuk," pinta Jay ketika kami sedang asyik nongkrong di kafe Titan.

"Hmm?" kaget, gue reflek membelalakkan mata dan hampir tersedak.

"Yuk...," kata Jay, memberikan tekanan pada intonasi pengucapannya.

Gue langsung terbatuk, salting (red: salah tingkah). Gue harus jawab apa ya? Bibir gue tersendat, kerongkongan gue menyempit. Sepertinya kolang-kaling isi es campur yang gue makan barusan nyangkut di tenggorokan. Sakit.

...................................................................

"Bukannya itu yang ditunggu-tunggu wanita non?" tanya Tika ketika gue curhat kejadian tadi siang.

"Hmm tapi gue bukan cewek yang kesenengan dapet permintaan kaya gitu Tik, malah bingung abis gue jadinya," jelas gue.

"Weleh, kalo gue ya seneng. Berarti cowok gue serius ama gue. Bukan kaya cowok-cowok di luar sana yang menghindar banget kalau diajak discuss tentang komitmen serius".

"Ya itu elo Tik, ini kan ngomongin gue. Lo tahu sendiri gue masih betah melajang. Males gue kenal banyak orang dari pihak laki. Nanti malah buru dikejar urusan KUA gue," dengan muka muram sedikit nekuk, gue menghempaskan diri di kasur empuk kos-an  Tika.

"Inget non, lu pacaran dah lama kale. 3 taon. Mo menghindar sampe kapan dari ajakan baik si Jay? Kenalan sama camer gak selalu berarti disuruh kawen kale..., cepek de...!" ujar Tika sambil melambaikan tangan kanannya ke dahinya.

"Denger ya say.., lu harusnya ngerasa beruntung bukan malah nyesel gitu. Kalau lu ngrespon negatif, nolak mulu, lama-lama Jay kesel kale. Orang nunggu ya ada batasnya. Ortunya kan juga pengen tahu sapa yang deket sama jagoannya. Hmm kamu tuh neng-neng, mikir knapa," Tika yang telah berbaring juga di samping gue menyentuhkan telunjuknya ke kening gue.

"Ah puseng," jawab gue singkat lalu menyampingkan badan.

"Lo takut a? Takot ortunya Jay apa takut ama komitmen? Jangan-jangan lo menakutkan hal yang sebenarnya hanya lo khawatirkan aja muter-muter di kepala lo!"

Gue akhirnya nginep malam itu di kos-an Tika. Gue khawatir gila sendiri. Dan gue mulai berpikir? Harusnya gue senang atau enggak ya? (gn)