*Untuk bunda Y
Dinginnya paris van java membekukan otot-otot kami. Untung ada segelas teh hangat yang menemani gurau kami di sore yang sedikit mendung itu. Dan wanita itu pun mulai menceritakan sebagian bait-bait galau kisahnya semenjak menjanda.
Entah obrolan apa yang akhirnya menghantarkan kami mulai berbagi kisah hidup. Saya dengan kehidupan seperembad abad saya, dan beliau dengan kematangan hidupnya yang terpaksa harus sendiri membesarkan kedua jagoannya yang beranjak dewasa.
Matanya mulai berkaca menunjukkan betapa sesak dadanya menahan beban kesendirian. Namun senyumnya masih mengembang untuk saya, saya yang dikenalnya belum genap 24 jam.
3 tahun, lumayan lama. Tapi baginya pasti masih berasa kemarin. Apalagi lelaki itu cukup lama telah menemaninya. 17 tahunan mengarungi pernikahan dengan begitu banyak cerita terlalu berharga bukan? Sulit untuk diabaikan dalam hari-harinya sepanjang 3 tahun ini.
"Terkadang kalau teringat susahnya mengurus dua jagoan itu, ingin aku menyusulnya," katanya sambil menghela nafas.
Di luar, langit paris van java masih muram dan meneteskan titik-titik air. Hrggg dingin.
"Dia sakit. Hampir dua minggu dirawat di rumah sakit. Dan dokter pun hingga saat itu tiba tak mengetahui sebab musababnya." Kulihat sekilas ada yang berkilauan di bawah matanya.
"Tapi maut, rezeki, lahir, jodoh, bukan kuasa kita kan? Yah diterima saja." O owh, dia berusaha keras menenteramkan hatinya sendiri. Aku tersenyum, mengangguk.
Dan dia pun masih mengulas senyumnya seperti ketika pagi, siang, hingga sore ketika di luar sana langit paris van java masih juga muram dan meneteskan titik-titik air. Hrggg benar-benar dingin.(gn)
Showing posts with label Tapak Kaki. Show all posts
Showing posts with label Tapak Kaki. Show all posts
9.1.12
24.12.11
15.12.11
Belajar 'Nyuport' dan Belajar Jadi Suporter
Label:
Indonesiaku,
Jepret,
Tapak Kaki
Sepak Bola. Siapa yang tidak kenal dengan olahraga 'rakyat' satu ini. Dan bukan orang NGALAM (red: bahasa walikan yang berarti Malang) kalau tidak kenal dengan AREMA, klub besar asli Malang yang prestasinya tidak perlu diragukan lagi di Indonesia.
Dan semuanya pun juga kompak bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum kick off babak pertama dimulai. Hanya sayangnya masih banyak yang belum tergerak untuk berdiri sejenak.
Oya patut berterimakasih sama bapak-bapak perkasa ini juga dehh! Yang kuat banget berdiri terus selama pertandingan dan matanya awas mengawasi setiap gerak-gerik penonton.
Hujan deras yang mengguyur Kota Malang sejak 2 jam menjelang pertandingan tak menyurutkan langkah-langkah Aremania, walau harus menonton sambil beratribut ponco jas hujan. Foto di bawah ini saya ambil ketika hujan sudah sedikit reda. Walau setelah itu dan selama pertandingan berlangsung gerimis beberapa kali masih mengguyur.
Daann? Tengok juga deh aremania-aremania kecil berikut. Dari pengamatan saya sih mereka sepertinya tidak didampingi oleh orang tua atau orang dewasa. Ini membuktikan wabah sepak bola memang sangat merakyat. Bahkan ke anak kecil sekalipun.
Berikut ini adalah suasana latihan di lapangan sesaat menjelang pertandingan Arema melawan PSMS Medan.
Bagaimana suasana masing-masing tribun 5 menit menjelang pertandingan? Huhu rada sepi sih. Mungkin karena hujan yang sebelumnya deras banget. Ketika pertandingan pun hujan juga beberapa kali mengguyur saya dan penonton.
![]() |
| Tribun ekonomi (tengah). sekaligus tribun yang paling ramai dan favorit penonton |
![]() |
| Tribun VIP dan tribun utama |
![]() |
| Tribun ekonomi (utara, belakang gawang) |
Nah.., akhirnya tiba yang dinanti-nanti. Tim inti dari PSMS Medan dan Arema, yang akan bertanding, memasuki lapangan untuk melakukan kick off babak pertama.
Lihat deh bagaimana kompaknya suporter Aremania menyambut klub kebanggaan mereka ,Arema, yang akan segera bertanding.
Dan semuanya pun juga kompak bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum kick off babak pertama dimulai. Hanya sayangnya masih banyak yang belum tergerak untuk berdiri sejenak.
Dan pertandingan pun dimulai setelah wasit meniup peluitnya. Semua suporter berharap-harap cemas dan mendoakan agar Arema menang dalam pertandingan perdananya di Laga IPL (Indonesia Primer League) ini
Selama pertandingan di dalam tribun berseliweran berbagai pemandangan, antara lain mereka yang juga mengais rizki dari pertandingan sepak bola. Alhamdulillah yaaa...? :-)
Ketika jeda pertandingan antara babak pertama dan kedua, bocah-bocah pengambil dan pemungut bola memanfaatkan untuk bermain sepak bola ringan di pinggir lapangan. Para pemain Arema cadangan pun juga memanfaatkannya untuk melakukan pemanasan.
Berikut ini adalah reportase pertandingan antara Arema melawan PSMS Medan pada laga perdana Arema di IPL tersebut: klik di sini
(by gn)
10.12.11
Mengingat Mati
Label:
Cermin,
Tapak Kaki
No body know kapan kematian akan datang menjemput. Seperti pepatah bijak yang tentu sering kita dengar bersama bahwa lahir, jodoh, rezeki dan maut adalah misteri yang Di Atas (Illahi). Tidak, saya tidak sedang membicarakan orang yang baru pergi. Tetapi saya ingin berbagi bagaimana saya diingatkan akan kematian dengan berziarah kubur. Ya, kemarin saya baru saja melakukan ziarah kubur. Dan tentang mati, terlintas kembali di otak saya.
Mati itu berarti kita akan kembali melebur dan menyatu dengan tanah. Diciptakan dari tanah dan kembali berdampingan bersama dalam satu area dan entahlah apa yang terjadi di sana, sesuatu yang pasti akan saya ketahui nanti ketika saya pada tahap 'usai' hidup di dunia.
Kemarin adalah hari jumat legi, yang mana menurut kepercayaan orang jawa merupakan hari yang dianggap sakral untuk mereka yang telah meninggal. Hari itu menurut penanggalan jawa juga dikeramatkan bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah dan haul. Saya sendiri, percaya enggak percaya juga si. Namun memang sudah jamak terjadi di lingkungan orang jawa bahwa menjelang jumat legi dan pada jumat legi makam ramai oleh pengunjung dan di pinggir jalan besar mudah ditemui penjual bunga dan wewangian untuk sarana berziarah.
Setelah membeli 10 bungkus kembang untuk dipakai berziarah, saya dan bapak saya bergegas untuk menuju ke area makam yang mana banyak famili dari garis bapak saya dimakamkan di sana. Begitu memasuki gerbang makam yang letaknya sedikit terpencil dari jalan besar ini, sudah tampak deretan motor dan mobil milik para peziarah yang mungkin juga mengunjungi makam familinya seperti kami.
Di gerbang masuk dekat pos yang menyimpan perlengkapan kematian seperti tandu dan payung, saya lihat banyak berjejer kembang-kembang di atas tanah. Bukan di atas pusara kubur, tetapi di pelataran tanah biasa. Usut punya usut ternyata itu adalah wujud cara berziarah bagi mereka yang telah kehilangan makam familinya di tempat tersebut. Kehilangan makam dikarenakan makamnya ikut tergali dan kini digantikan dengan makam yang lain. Yah, di sini memang sudah tak terhitung lagi berapa jumlah mereka yang telah dimakamkan. Tergolong area makam yang sudah berusia tua, jumlah luas area yang tetap (tidak bertambah) padahal jumlah penduduk yang tutup usia semakin meningkat, menyebabkan beberapa makam yang terlebih dahulu di sana dan tak terurus bahkan hilang tanda pusaranya menjadi tak sengaja ikut tergali untuk makam-makam baru.
Berpindah dari pusara makam satu ke pusara makam yang lain milik famili kami, kami mulai ritual berdoa dan menabur bunga. Hal yang sama juga tampak dilakukan oleh peziarah yang lain. Bahkan ada beberapa, tampak mata, memanfaatkan jumat legi ini untuk melakukan perbaikan di makam familinya seperti mencabut rumput ilalang yang tumbuh di atas pusara, mengganti batu nisan, bahkan membangun paseba di atas makam.
Sempat terlintas di otak saya untuk mengabadikan momen-momen yang ada di sana, namun urung karena sedikit merinding sendiri teringat seringkali terjadi di masyarakat bahwa kejadian mengambil gambar di area-area yang tabu memunculkan hal-hal yang mistik. Seperti ada sosok tak terduga di hasil jepretan, mengalami kejadian aneh seusainya, yah percaya tak percaya juga namun cukup bikin saya ciut nyali. Yah, lebih baik tidak melakukan apa-apa.
Miris sekali ketika saya saksikan di sana banyak sekali makam yang tak terurus. Entah memang makam lama (tua) yang mana garis keturunannya sudah habis, lupa atau apa. Apalagi makam-makam yang berderet di sana berhimpitan sangat dekat satu sama lain. Bisa saya bayangkan bagaimana bila ada galian baru yang ingin mengambil tempat di antaranya. Pasti bagaimanapun juga makam yang lama akan sedikit ikut tergali atau bahkan kalau nisan atau penandanya hilang bisa jadi akan tergali keseluruhan.
O ow, khawatir sekali bila itu terjadi pada famili saya yang dimakamkan di sana. Apalagi kata Bapak, pernah hampir juga salah satu makam famili kami ikut tergerus saat penggalian kuburan baru. Sehingga rasanya memang benar wanti-wati (red: nasihat) bapak, bahwa penting sekali garis keturunan mengetahui dimana famili-familinya dimakamkan walau itu garis yang sedikit jauh atau jauh. Kalau bukan keturunannya yang mengurus makam mereka yang telah tiada, siapa lagi?
Melihat apa yang ada di sana, terbayang di otak saya bahwa kematian sebenarnya sangat dekat dengan kita yang hidup. Merinding menyaksikan hamparan makam dan deretan batu nisan yang suatu saat sayalah yang ada di sana. Terbayang juga melihat bapak saya yang memang tergolong manula. Saya takut, saya takut sekali, saya belum siap kalau mungkin bapak saya pergi. Saya masih jauh dari 'bisa' membahagiakan beliau. Apalagi dalam beberapa kesempatan bapak saya sering berujar suatu saat nanti ingin dimakamkan di tempat ini. Terbayanglah segala ketakutan tentang kematian ketika saya ada di sini.
Kemarin, terbersitlah dan tersentaklah saya untuk lebih menyayangi bapak juga ibu saya selama kami masih bisa bersama, lebih dari sebelum-sebelumnya. Dan berikrarlah saya untuk lebih menyayangi orang tua saya bahwa saya harus menjadi anak yang berbakti baik ketika orang tua saya hidup maupun nanti ketika tiada. (gn)
Mati itu berarti kita akan kembali melebur dan menyatu dengan tanah. Diciptakan dari tanah dan kembali berdampingan bersama dalam satu area dan entahlah apa yang terjadi di sana, sesuatu yang pasti akan saya ketahui nanti ketika saya pada tahap 'usai' hidup di dunia.
Kemarin adalah hari jumat legi, yang mana menurut kepercayaan orang jawa merupakan hari yang dianggap sakral untuk mereka yang telah meninggal. Hari itu menurut penanggalan jawa juga dikeramatkan bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah dan haul. Saya sendiri, percaya enggak percaya juga si. Namun memang sudah jamak terjadi di lingkungan orang jawa bahwa menjelang jumat legi dan pada jumat legi makam ramai oleh pengunjung dan di pinggir jalan besar mudah ditemui penjual bunga dan wewangian untuk sarana berziarah.
Setelah membeli 10 bungkus kembang untuk dipakai berziarah, saya dan bapak saya bergegas untuk menuju ke area makam yang mana banyak famili dari garis bapak saya dimakamkan di sana. Begitu memasuki gerbang makam yang letaknya sedikit terpencil dari jalan besar ini, sudah tampak deretan motor dan mobil milik para peziarah yang mungkin juga mengunjungi makam familinya seperti kami.
Di gerbang masuk dekat pos yang menyimpan perlengkapan kematian seperti tandu dan payung, saya lihat banyak berjejer kembang-kembang di atas tanah. Bukan di atas pusara kubur, tetapi di pelataran tanah biasa. Usut punya usut ternyata itu adalah wujud cara berziarah bagi mereka yang telah kehilangan makam familinya di tempat tersebut. Kehilangan makam dikarenakan makamnya ikut tergali dan kini digantikan dengan makam yang lain. Yah, di sini memang sudah tak terhitung lagi berapa jumlah mereka yang telah dimakamkan. Tergolong area makam yang sudah berusia tua, jumlah luas area yang tetap (tidak bertambah) padahal jumlah penduduk yang tutup usia semakin meningkat, menyebabkan beberapa makam yang terlebih dahulu di sana dan tak terurus bahkan hilang tanda pusaranya menjadi tak sengaja ikut tergali untuk makam-makam baru.
Berpindah dari pusara makam satu ke pusara makam yang lain milik famili kami, kami mulai ritual berdoa dan menabur bunga. Hal yang sama juga tampak dilakukan oleh peziarah yang lain. Bahkan ada beberapa, tampak mata, memanfaatkan jumat legi ini untuk melakukan perbaikan di makam familinya seperti mencabut rumput ilalang yang tumbuh di atas pusara, mengganti batu nisan, bahkan membangun paseba di atas makam.
Sempat terlintas di otak saya untuk mengabadikan momen-momen yang ada di sana, namun urung karena sedikit merinding sendiri teringat seringkali terjadi di masyarakat bahwa kejadian mengambil gambar di area-area yang tabu memunculkan hal-hal yang mistik. Seperti ada sosok tak terduga di hasil jepretan, mengalami kejadian aneh seusainya, yah percaya tak percaya juga namun cukup bikin saya ciut nyali. Yah, lebih baik tidak melakukan apa-apa.
![]() |
| Gambar diambil dari sini |
Miris sekali ketika saya saksikan di sana banyak sekali makam yang tak terurus. Entah memang makam lama (tua) yang mana garis keturunannya sudah habis, lupa atau apa. Apalagi makam-makam yang berderet di sana berhimpitan sangat dekat satu sama lain. Bisa saya bayangkan bagaimana bila ada galian baru yang ingin mengambil tempat di antaranya. Pasti bagaimanapun juga makam yang lama akan sedikit ikut tergali atau bahkan kalau nisan atau penandanya hilang bisa jadi akan tergali keseluruhan.
O ow, khawatir sekali bila itu terjadi pada famili saya yang dimakamkan di sana. Apalagi kata Bapak, pernah hampir juga salah satu makam famili kami ikut tergerus saat penggalian kuburan baru. Sehingga rasanya memang benar wanti-wati (red: nasihat) bapak, bahwa penting sekali garis keturunan mengetahui dimana famili-familinya dimakamkan walau itu garis yang sedikit jauh atau jauh. Kalau bukan keturunannya yang mengurus makam mereka yang telah tiada, siapa lagi?
Melihat apa yang ada di sana, terbayang di otak saya bahwa kematian sebenarnya sangat dekat dengan kita yang hidup. Merinding menyaksikan hamparan makam dan deretan batu nisan yang suatu saat sayalah yang ada di sana. Terbayang juga melihat bapak saya yang memang tergolong manula. Saya takut, saya takut sekali, saya belum siap kalau mungkin bapak saya pergi. Saya masih jauh dari 'bisa' membahagiakan beliau. Apalagi dalam beberapa kesempatan bapak saya sering berujar suatu saat nanti ingin dimakamkan di tempat ini. Terbayanglah segala ketakutan tentang kematian ketika saya ada di sini.
Kemarin, terbersitlah dan tersentaklah saya untuk lebih menyayangi bapak juga ibu saya selama kami masih bisa bersama, lebih dari sebelum-sebelumnya. Dan berikrarlah saya untuk lebih menyayangi orang tua saya bahwa saya harus menjadi anak yang berbakti baik ketika orang tua saya hidup maupun nanti ketika tiada. (gn)
27.11.11
Ngelalap di Warung Hujan
Label:
Jepret,
Kuliner,
Tapak Kaki
Ini ceritanya sedang ngelalap di warung lesehan :-p. Lokasinya di Warung Hujan (nama jalan uhuk, lupa. Letaknya di kisaran belakang area Universitas Muhammadiyah Malang. Dari kawasan Jalan Candi Panggung Kota Malang, lurusss aja begonoh hehe).
![]() |
| Delicious |
Berikut ini adalah beberapa spot yang ada di lokasi Warung Hujan:
Tempatnya pas dan mantap banget untuk nongkrong dengan keluarga atau teman. Selain bernuansa tradisional yang mana hampir 70 persen terbuat dari bambu dan kayu, Warung Hujan juga menawarkan suasana pemandangan pedesaan. Ditambah lagi dengan harga makanan yang tak menguras kantong juga menu yang jawaaaa bangettt. Pas mantap deh!
Nah, dalam momen ini ada sahabat dekat saya yang kebetulan sedang merayakan ulang tahun. Congratss..., semoga semakin barokah di usia yang seperempat abad! We love you..!
(by gn)
Subscribe to:
Posts (Atom)



















































